Coz I’m SpeCiaL

and I refuse to fall….

Sweet Disaster? November 2, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku, Sorry, i luv yu... — Hasian Cinduth @ 3:20 pm

Sinting!!! Sekarang meminta aku jadi pendamping pengantin wanitanya? Edan!!!! Kenapa gak sekalian jadi pengantin wanitanya aja?

Sudah enam bulan ini aku dekat dengan seorang pria, namanya Roy. Dia adalah pria yang menyenangkan, pria pertama yang mampu ’memaksa’ aku untuk bersikap dan berpikir lebih dewasa, dan yang terpenting, dia tau bagaimana cara membuatku tertawa. Jujur saja, aku sedikit ’tergerak’ dengan semua yang ada padanya, tak bisa ku pungkiri pula,kadang kala aku tersenyum jika sedang memikirkannya. Tapi kemaren siang, dia hampir saja membuatku ’terjatuh’ dari angan-anganku jika saja aku tak segera tersadar dan sukses mengontrol pikiranku kembali.

Percakapan by HP (14.00 WIB)

Roy : Tanggal berapa berangkat dari sana?
Aqu : Hmm, belum tau.
Roy : Rencananya?
Aqu : Yah, kalau gak tanggal 4, mungkin tanggal 5.
Roy : Oh, kl emang tanggal 5, jangan lupa ya datang ke pesta kita!
Aqu : Pesta? Kita? Maksutnya?
Roy : Iya, aku mau merid tanggal 5.
Aqu : Maksutnya? (* makin gak ngerti mode on)
Roy : Kamu kebanyakan becanda sih, jadi waktu lagi serius dianggap becanda juga.
Aqu : Apaan sih? Oke..oke.. sekarang serius. Siapa yang mau merid?
Roy : Aku.
Aqu : Sama???
Roy : Ya sama pacarkulah.
Aqu : Hah?? Ini serius?
Roy : Iya serius. Kamu gimana sih?
Aqu : (*terpelongo… jambak-jambak rambut sendiri, auuhh…sakit!!! )
Roy : Hello… masih ada orang kan?
Aqu : Hemmmm… (* nyubit lengan kiri, dddohhhh, sakit juga!!! )
Roy : Kok diam?
Aqu : Heh? Iya, masih disini kok. Ini serius? Gak lagi becanda kan?
Roy : Ya elah. Ya iyalah, serius!

GUBRAK!!!!!! Jadi.. jadi… dia mau merid?? Serius?? Trus…trus… selama 6 bulan ini aku dianggap apa? Ah, masih gak percaya!

Aqu : Emang dah berapa lama pacaran sama dia?
Roy : Dah lama lah..
Aqu : Berapa tahun?
Roy : Berapa ya? 5 tahun!
Aqu : Lima tahun? (* Buseeettt, kali ini garuk garuk kaki karna gatal…. :d )
Roy : Iya.
Aqu : Serius nih?
Roy : Hehehe, enggak kok. Satu setengah tahun.
Aqu : (* Menelan ludah, kok terasa sedikit pahit ya?)

Satu setengah tahun? Ya ampun, berarti selama dia dekat sama aku, ternyata statusnya pacar orang? Dan aku gak tau? Oh mai, oh mai.. Ini gak mungkin!

Roy : Ya sebenarnya sih dia yang pengen cepat-cepat merid, dia ngajakinnya taun depan.
Aqu : Trus?
Roy : Tapi aku belum siap.
Aqu : Oh, jadi yang tanggal 5 belum pasti?
Roy : Belum. Dia sih pengennya Januari, atau Juni, yang penting taun depan katanya.
Aqu : Oh…
Roy : Kenapa sih dari tadi au..au..oh aja?
Aqu : Ya wajar donk, kayak di sinetron-sinetron itu lho, jadi agak-agak kaget dengarnya.
Roy : Hahahaha…

Merid? Taun Depan? Januari? Arrghhhh…… kenapa jadi begini sih?
(*Berjalan ke arah cermin, ngeliat tampang bloon muncul disana, dan matanya melek. Oh, berarti aku gak sedang tidur! Kembali lagi ke tempat tidur.)

Roy : Sebenarnya ada masalah yang sampai saat ini belum terselesaikan. Gini loh, (********************************)
Aqu : Oh gitu, (************************)
Roy : Iya, makanya aku juga lagi bingung sekarang. Menurutmu aku dah pantas belum kl jadi pengantin?
Aqu : I don’t know.
Roy : Lho? Kok gitu?
Aqu : Ya iyalah. Kalau kau merasa pantas, maka memang pantas. Jika tidak, berarti gak pantas.
Roy : Menurutmu?
Aqu : still don’t know.

Gilak, gimana mungkin aku bilang PANTAS? Iya, kamu pantes banget kok jadi pengantin, suer deh, disambar gledek! Mana mungkin, sementara aku masih belum bisa meredakan nyeri yang terasa di kepala akibat pengakuanmu yang tiba-tiba ini. Damn!

Roy : Eh, ntar kamu mau gak jadi pendamping pengantin wanitanya?
Aqu : Maksut loe?
Roy : Iya, jadi pendamping pengantin wanitanya! Ntar aku yang nyampein ke dia.
Aqu : Maksut loe?
Roy : Iya, jadi nanti yang jadi pendamping prianya itu teman dekatku. Kenal kan?
Aqu : Hmmmm…..

Sinting!!! Sekarang meminta aku jadi pendamping pengantin wanitanya? Edan!!!! Kenapa gak sekalian jadi pengantin wanitanya aja?

Roy : Gimana? Mau kan?
Aqu : Enggak!
Roy : Kenapa?
Aqu : Gak mau aja.
Roy : Tapi kenapa ?
Aqu : Aku masih sangat muda, ntar malah jadi pengen nikah juga. Hahaha..
Roy : Kalau misalkan aku nikahnya 2 tahun lagi, pasti udah gak muda lagi donk.
Aqu : Ah, pokoknya gak mau!

Mau dua tahun lagi kek, mau tiga tahun lagi kek, mau kakek kakek, mau nenek nenek, pokoknya gak mau!

Aqu : Eh, udah dulu ya, ada telpon masuk nih, kayaknya urgent.
Roy : Iya. Tapi jangan kasih tau orang dulu ya tentang rencana merid ini. Masih rencana.
Aqu : Hmmm…
Roy : Kalau sampai ada yang tau, aku gak bakal percaya lagi nih sama kamu.
Aqu : Hmmm….
Roy : Janji dulu!
Aqu : Iya deh, janji!
Roy : Benar yah?
Aqu : Iya, benar!

Arrggggghhh…. Apa yang dapat ku tuliskan disini untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan. Marah? Kesal? Merasa dipermainkan? Apa? Masih kurang pas rasanya.
Terbayang lagi saat-saat selama 6 bulan ini, ketika dia berlaku sangat manis, membuat nama panggilan special, bilang kangen? Najis! Apa maksud semua ini?

Panas, gerah, kepalaku rasanya gatal sekali. Ku putuskan untuk mandi saja, mengademkan semua isi kepala termasuk hati ini. Saat ku putar kran shower, terngiang lagi semua ucapannya, mau merid! Arghhh…. Jadi selama ini dia hanya mempermainkan aku? Ku sadari terasa sakit di dalam hati ini.

Apa yang dirasakan kekasihnya saat dia menghubungiku hampir setiap malam? Punya feeling-kah dia atas semua yang terjadi ini? Sakitkah yang dirasakannya selama 6 bulan ini? Entah mengapa aku merasa bersalah, dapat ku rasakan jika aku yang ada diposisinya. Maafkan aku, tetapi bukan salahku, kekasihmu yang tak jujur padaku.

Air dengan derasnya mengucur di atas kepalaku, ku harap perlahan mampu mengikis semua ingatan tentang dia. Pria ini sungguh menyebalkan, bagaimana dia bisa setega itu mempermain aku? Menjadikan ku ‘sweet disaster’ diantara mereka? Ku putar kran lebih kencang lagi, berharap leher pria itulah yang sedang ku gengam sekarang. Damn!

Masih tak bisa ku percaya apa yang ku dengar hari ini. Malam terasa sangat panjang karna memikirkan itu. Lalu ku putuskan mengirimkan SMS untuknya.

”Sejujurnya masih belum bisa ku percayai sepenuhnya tentang semua yang kau katakan hari ini. Gimana ya, gak bisa ku tuliskan dengan kata-kata semua hal yang ada di pikiranku sekarang. Tapi satu hal yang ku sayangkan, kenapa kamu gak jujur dari awal dan baru bilang sekarang? ’Seandainya’ aku menyukaimu, maka pantaskah jika ku katakan bahwa kau telah mempermainkan aku? Hahaha, tolol sekali rasanya! Tapi anggap sajalah itu semua sebagai ’intermezo’, karena kita berteman kan? Makasih sudah berbagi cerita hari ini, semoga ada jalan keluar untuk masalahmu.”

Send!!!

Teringat lagi kata-kata seseorang ”Cewek keren pantang menangis!”. Maka itu tidak ku lakukan.
Aku marah, tapi tak dapat ku sampaikan padanya.
Aku ingin menangis, tapi aku tak sudi.
Jadi harus ku biarkan saja semua ini berlalu seiring berlalu waktunya waktu.

Rasa-rasanya aku harus menata hatiku lebih kuat lagi, agar para pria tak bertanggung jawab itu tak bisa memasuki hatiku. Cewek keren pantang menangis!

====================

PS : Dedicated to My Sister, Juli Munthe “juthe”.
Oi sister, gak tau mau buat cerita apa tentangmu, jadi ini aja yah? hehehe… Luv yu sister, moga sukses selalu yaks!!!

 

Just wanna be happy!!! October 21, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku — Hasian Cinduth @ 5:05 pm

Aku tidak sedang menyerah pada keadaan, aku hanya sedang yakin bahwa ada tempat yang lebih layak untukku

Someone once told me that you have to choose
What you win or lose
You can’t have everything….

Lantunan lagu yang mengalun dari music player menyentakku dari lamunan panjang yang entah sudah berapa lama terjadi. Aku masih belum sepenuhnya tersadar saat ku dengar suara sepasang kaki yang sedang berjalan, tepat menuju ke arah kamarku. Suara itu kemudian berhenti, ku pikir tepat di depan pintu. Aku terdiam, menunggu ketukan pintu yang tak akan ku buka untuk siapapun, setidaknya untuk hari ini.

Dia tidak mengetuk, aku juga tak berniat menggerakkan kedua kakiku untuk sekedar melihat siapa dia. Ku lihat jam di dinding kamarku, sudah sepuluh menit dia berdiri disana, apa yang dilakukannya? Aku hanya mengira-ngira dalam pikiranku, masih tidak berniat bangkit untuk sekedar menilik. Kemudian dia berlalu, menuju pintu keluar.

Pintu ruang depan menutup dengan suara lembut, kelihatan sekali seseorang itu tak ingin menggangguku dengan suara apapun. Aku menghela nafas.

”Prangggg!!!”. Aku terkejut mendengar suara keras yang berasal dari sudut ruanganku. Bagaimana mungkin? Aku meloncat kecil dari ranjangku, menghampiri sesuatu yang telah terjatuh dari tempat seharusnya. Aku memandangi bingkai foto yang telah hancur itu masih dengan pandangan tak percaya. Itu adalah fotoku dengan Rio, kekasih yang telah meninggalkanku demi ambisinya. Ku raih lembaran foto dengan perlahan, berharap aku tak dilukai oleh pecahan kaca.

Pertanda burukkah itu?

Aku tak tau.

Lalu siapa orang yang tadi ada di depan pintu kamarku? Rio kah itu? Sekarang dapat ku rasakan air yang menetes di kedua pelupuk mataku. Aku masih belum rela kehilangannya.

”Ima…buka pintunya ma!”.
Aku menoleh ke arah pintu, si burung betet itu pasti hendak menggangguku lagi.

”Ima…pliss ma!! Buka pintunya… Kamu baik-baik aja kan?”
Aku mengangguk perlahan, sambil menyeka air mata yang masih menetes di pipiku, tapi sama sekali tak ku bukakan pintu itu untuk Nia, sahabatku.

”Oke..oke!! Aku tak akan mengganggumu lagi. Tapi jika kau butuh aku, aku ada di luar.”
Dia masih tak menyerah juga rupanya.


Don’t cha love in vain
Cause love won’t set you free
I could stand by the side
And watch this life pass me by
So unhappy
But safe as could be…

***

Ku langkahkan kakiku dengan gontai menuju lift, aku masih tidak bersemangat. Ku tekan angka 18 dengan asal, berharap lift ini akan membawaku ke sebuah tempat lain, bukan lantai 18 yang ku tau tak akan memberiku rasa nyaman.

“Ting!! “.
Aku berjalan keluar dari dalam lift menuju sebuah pintu kaca. Oh tidak, disana sudah ada seraut wajah yang memuakkan, membuat mood ku semakin tidak bisa diajak kompromi. Aku berusaha mengatur langkah kakiku setenang mungkin, meski ku tau wajahku tidak bisa menyembunyikan betapa inginnya aku berlari kencang. Wajah itu tersenyum sinis, terlihat sekilas olehku.

”Teruslah melangkah Ima, tak usah pedulikan mahkluk itu!!!” Aku terus berkata-kata dalam hatiku. Huff, akhirnya sampai juga di ruangan kerjaku. Ku hempaskan badan ke kursi empuk di hadapanku, aku tertunduk lesu. Haaaahhh, akankah hari ini dapat ku lalui dengan baik?

”Pagi Ima. Maaf yah mengganggu. Tadi Pak Wibowo nitip pesan, kamu disuruh ke ruangan beliau secepatnya”

Hah? Pak Wibowo? Ke ruangannya? Haduhhhh, aku pasti akan celaka! Kesalahan apalagi yang ku perbuat? Ada banyak pertanyaan yang bergentayangan di dalam kepalaku.

“Tok..tok..tok!!” Ku ketuk pintu ruangan Pak Wibowo dengan pelan.

“Masuk.” Suaranya yang berwibawa menyambut ketukanku.

“Selamat pagi Pak, saya mendapat pesan bahwa Bapak memanggil saya”, kataku pelan.

“Oh ya, silakan duduk dulu.” Dia masih terlihat berwibawa.

****************************************

Pertemuan satu jam di dalam ruangan itu telah berhasil membuatku semakin tak semangat hari ini. Arrrggghhhh….. Kenapa harus aku? Siapa makhluk sadis yang telah memfitnahku? Memberikan laporan palsu kepada atasan tentangku? Jika ku temukan, akan ku buat dia mengerti bagaimana rasanya jadi aku saat ini.

Semuanya terasa berat saat ini. Aku ingin pergi ke sebuah tempat yang hanya ada aku, sehingga tak perlu lagi ku dengar suara-suara sumbang yang memekakkan telingaku. Ku pikir aku tau aku harus pergi ke mana, ke sebuah pantai rahasia yang menjadi tempat favoritku.

Sekarang aku telah berdiri di tepi pantai yang indah ini. Aku terduduk, menekuk kedua lututku dengan erat, untuk pertama kali ku rasakan kemarahan yang seperti ini. Tubuhku bergetar menahan rasa sakit yang tak tertahankan lagi, ku pikir aku membutuhkan kehadiran Rio saat ini, tapi itu tak mungkin lagi.

Aku sungguh terluka dengan kepergiannya.
Dan kini rekan kerjaku mencoba menusukku dari belakang, pikirnya dia akan berhasil menjatuhkanku dari posisiku saat ini.

Semua seolah sedang memusuhiku, menjauhiku, dan membuat semuanya semakin terasa perih.

So what if it hurts me?
So what if I break down?
So what if this world just throws me off the edge?

Arrrggghhhh!!! Aku berteriak sekuat tenagaku, memuaskan segala sesak yang terasa. Ku lemparkan segenggam pasir yang sedari tadi ada di tanganku, seolah aku ingin menghilangkan kesedihan di dalam hatiku ke dalam lautan, biar pergi dariku. Ku seka air mataku, aku sudah lelah untuk menangisi keadaan ini, aku harus bangkit! Aku ingin bersemangat lagi menjalani hari-hariku, mengejar kebahagiaanku.

My feet run out of ground
I gotta find my place
I wanna hear myself
Don’t care about all the pain in front of me
Cause I’m just trying to be happy, yeah
Just wanna be happy

****

Sudah ku taruh dengan mantap sebuah amplop di hadapan Pak Wibowo. Aku tau, ini keputusan terbaik untukku, aku mengundurkan diri.

Aku tidak sedang menyerah pada keadaan, aku hanya sedang yakin bahwa ada tempat yang lebih layak untukku. Ku tatap sekali lagi wajah sadis beberapa hari lalu, yang kini ada di hadapanku.

It’s just that I can’t see
The kind of stranger on this road
But don’t say victim
Don’t say anything

Dan aku berlalu dengan cepat.

So what if it hurts me?
So what if I break down?
So what if this world just throws me off the edge
My feet run out of ground
I gotta find my place
I wanna hear myself
Don’t care about all the pain in front of me.
I just wanna be happy

======

PS:
Tulisan kali ini ku dedikasikan buat sisterQu, sister uwie yang manis dan BESAR. Hahaha.. just be happy sist… I Love You.

Dan juga buat teman-temanku yang ’sepertinya’ lagi ada masalah di kantornya masing-masing, keep chaiiooo girlz….
I Love Yu all…. :-)

Oh ya, buat Esther yang lagi ultah juga, “Heppi birthdei yah, just be happy too my frend… :-)

 

Mungkin mudah bagimu August 28, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku, Sorry, i luv yu... — Hasian Cinduth @ 12:15 pm

Tuhan,
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku…

Pukul 18.24 WIB
“bila nanti aku milikmu…temani aku hingga tutup usiaku…”
Ku raih hp dari dalam saku celanaku sambil tersenyum, sekaligus menebak-nebak apa isi pesan yang dikirimkan oleh kekasihku.

…..
aq terdiam…
sungguh tak percaya…
apakah dia sedang bercanda?
tapi rasanya sangat keterlaluan!!!

ku palingkan wajahku, kemudian membaca kembali kata demi kata yang tampil di layar kecil itu, argghhhh…. aku marah!!!!

Kekasihku menginginkan hubungan kami berakhir. Putus!

Aku berdoa,
semoga saja ini terbaik untuknya

“Sayang, kamu serius? Kenapa? Apakah ada yang salah dengan hubungan kita selama ini? Aku sayang kamu sangaddhhh… “
ku tekan tombol Send dengan perasaan yang berantakan, memelas dalam hati dan berharap dia tidak meninggalkanku.

“Aku serius. Maafkan aku. Ku harap ini jalan terbaik buat kita.”

Terluka hatiku kali ini… Apa salahku? Mengapa semua harus berakhir begitu saja padahal baru kali ini ku rasakan cinta yang sangat kuat pada lawan jenisku? Mengapa??

Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

“Sayang, ku mohon padamu, jangan tinggalkan aku. Apapun yang kau mau akan ku lakukan, asalkan kau tetap disisiku. Aku sangat mencintaimu. Aku tak kan bertahan tanpamu, karna kaulah semangatku..” Sekali lagi ku kirimkan pesan singkat padanya, sebab dia tak mau mengangkat panggilan dariku.

“Aku gak bisa. Kau harus tetap semangat dan kuat menjalani hidupmu. Biarlah yang lalu menjadi kenangan di hati kita masing-masing. Makasih sudah pernah hadir dalam hidupku, menyayangiku dengan setulus hatimu.”

Tak tertahankan lagi air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Terasa hangat di pipiku, tapi panas di dalam hati…
Aku semakin tak percaya bahwa aku telah kehilangannya.

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. Cintamu seperti cintaku..

Aku adalah makhluk Tuhan yang selalu di labeli “ceria dan berhati baja”,tapi ku rasa itu tak tepat lagi. Kini aku sedang menangis, aku benar benar mencintai kekasihku, namun telah kehilangannya.

Andai saja dia tau sedalam apa cintaku untuknya, untuk kekasihku, yang ku impikan jadi pendamping sisa hidupku kelak..

Meski hatiku tak rela, aku ingin ikhlas melepaskannya demi kebahagiaanya.
Meski aku akan selalu menangis di sela malam sepi yang akan ku lalui tanpa canda tawanya.
Meski aku akan selalu merindukan kehadirannya.
Aku ingin ikhlas.

*******

Sejak saat itu ku lalui hari tanpa semangat yang dulu ku miliki, aku sungguh terjatuh, aku hanya bisa memeluk kedua lututku sendiri disaat aku benar-benar merindukan sosoknya yang ceriakan hari-hariku dulu.

Aku tak boleh terus begini, aku harus bangkit dari keterpurukan hatiku, demi masa depanku sendiri.

Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku
Ku bilang, “Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka “

Bisakah kau bayangkan bagaimana aku melalui hidupku setelah kepergianmu? Aku terseok-seok, merangkak diantara serpihan hatiku yang t’lah kau hancurkan dengan kejamnya.
Dan kini kau datang lagi…
Entah untuk apa….
Apakah kau ingin menertawakanku?

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku

Mungkin kau tak pernah merasakan luka seperti yang ku alami.
Mungkin cintamu padaku tak sebesar yang ku miliki untukmu.
Dan tak pernah kau rasakan saat hatiku menggigil menahan kerinduan untukmu…
Mungkin tak pernah..

Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku

=====================================================

Ps.
Ku dedikasikan buat My broer yang baru saja patah hati ditinggalkan kekasihnya (*andai saja aku disampingmu untuk menenangkanmu saat itu. Aku sayang kamu sangadhh broer ), buat Memeng a.k.a. Jefflinyang tak lagi jadi besanku (*tetap semangat yah meng, jaga kesehatanmu!), buat seseorang yang ngajak ketemuan hari Minggu nanti (* lagu “Mudah saja” ini kau tujukan untukku kan?? Aku mengerti…) dan buat semua orang yang sedang patah hati dimanapun kalian berada…

Meski cinta telah membuat hatimu terluka, tapi cinta jugalah yang mengajarkanmu untuk bangkit dari keterpurukan dan bertahan dalam cobaan. Tetap semangat.. :-)

 

Oh Em-Ji!!!! March 25, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku — Hasian Cinduth @ 4:22 pm

Mundurkan waktu, Tuhan, lima menit saja! Kembalikan aku ke posisi saat aku masih di jalan tadi, atau biarlah aku di tabrak bajaj saat menyebrang tadi hingga tak perlu bertemu dengannya disini.

Hari ini aku senang sekali, sebab aku baru saja menerima kabar gembira dari seseorang. Dia bilang Kris akan ke Jakarta untuk sebuah urusan kantor. Kris? Oh, seperti apa dia sekarang? Kelihatan semakin dewasakah? Atau masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya, sekitar tujuh tahun yang lalu?

Rasanya tak sabar menunggu tanggal yang telah disebutkan tadi. Aku jadi gelisah dan gugup! Heiii, ada apa ini? Kenapa jantungku juga berdebar-debar? Aku tak berhenti tersenyum, sebentar-sebentar melihat wajahku di cermin sambil bertanya dalam hati, ”Masih cantik kah aku dimatanya? Apakah dia akan mengenali aku nanti?”. Ya ampun, padahal kedatangannya itu masih seminggu lagi. Ohh, sepertinya itu waktu yang terlalu panjang untuk menunggu kedatangan Kris yang sangat ku rindukan.

Sisa hari itu ku lewati dengan konsentrasi yang memudar, tanganku terasa dingin dan gemetaran, mungkin efek detak jantung yang terlalu cepat. Yah, orang yang jatuh cinta akan mengatakan semua hal untuk membenarkan pemikirannya! Apa? Jatuh cinta? Hahaha, aku tertawa keras untuk hasil pemikiranku tadi. Apakah aku jatuh cinta lagi padanya? Wajahku terasa panas, ada semangat berlebih yang menjalar di seluruh tubuhku.

Aku tak kuasa menghalau semua pemikiran tentang dia. Apa yang akan ku katakan padanya nanti saat kami bertemu? Ah, sebaiknya kami tidak membicarakan masa lalu! Biarlah yang lalu menjadi bagian dari kami masing-masing. Entah mengapa, sesaat aku merasakan lagi rasa yang menggelitik itu, seakan ada beratus kupu-kupu yang hinggap diperutku, aku merasakan nikmat. Aku ingin berlama-lama merasakan geli itu, rasa yang telah ku lalui saat pertama kali jatuh cinta padanya. Dan ku pejamkan mataku sambil duduk bersandar di kursi, aku berusaha menghadirkan sosoknya di dalam imajinasiku.

– seminggu kemudian –

Ini hari yang telah dijanjikan. Aku dan dia akan bertemu di sebuah cafe yang terletak di seberang kantorku. Masih jam 10 pagi, dan terlalu dini untuk menemuinya disana. Ku perhatikan lagi penampilanku di cermin, cantik! Ku rapikan kerah kemejaku yang sebenarnya sudah rapi, tapi tetap kelihatan kurang rapi. Ahh, mungkin karna aku akan menemui seseorang yang sangat istimewa. Aku berusaha mengingat-ngingat lagi apa saja yang akan ku tanyakan padanya. Tak sabar rasanya menunggu jam 12 siang.

Akhirnya jam menunjukkan pukul 12.00, aku segera berjalan menuju cafe. Aduh, perasaanku semakin tak menentu. Ada getaran di bagian tubuhku, tapi aku yakin kalau aku tidak sedang bergoyang gergaji sehingga aku bingung itu getaran apa. Ku raba saku celanaku, dan ku dapati handphone ku yang masih bergetar-getar. Oh, ternyata itu penyebabnya. Ku baca sms yang baru saja ku terima, isinya ”Aku sudah sampai. Kamu dimana?”

Aku semakin mempercepat langkahku tanpa membalas sms nya lagi. Dan kini pria itu ada dihadapanku, tersenyum sambil mengulurkan tangannya kanannya. Aku gamang seketika, mulutku terkatup rapat dan mataku tak berkedip memandangnya.

Benarkah dia adalah Kris yang ku kenal dulu? Kris yang ku cintai dan yang ku tunggu selama tujuh tahun? Tapi..tapi…tapi kenapa penampilannya jadi seperti ini? Oh Em-Ji!!! Bisakah aku meminta untuk memundurkan waktu hingga aku tak perlu bertemu dengannya? Mundurkan waktu, Tuhan, lima menit saja! Kembalikan aku ke posisi saat aku masih di jalan tadi, atau biarlah aku di tabrak bajaj saat menyebrang tadi hingga tak perlu bertemu dengannya disini. Tuhhhhaaannnn…Kau dengarkah permintaanku ini?

Aku bagai tersambar petir mendengar ucapannya padaku,

”Heiii, yeii dari mana saja? Lamrettaa bokkk!!! Eke dah laper nich.!!!”

Oh nooooo!!!! Tak mampu lagi aku mencari posisi yang tepat untuk merebahkan diriku, yang ku tau aku pingsan seketika.

————————————————————-

Hahahaha…… ini cuma imajinasi aja yah, tak ada dalam kisah nyata!! Aku terinspirasi dari postingannya mbak Lala yang mengatakan bahwa tidak semua yang kita inginkan jadi kenyataan. Trus geli aja pas bongkar-bongkar postingan bang ogie yang suka make bahasa ”eke”, ”bokkkk”, dll. Sungguh bang, i like your style!!! Makasih buat para motivator… :-)

Oh ya, postingan kali ini ku dedikasikan buat Mai Metal Girls (awok, pempok and piteng, i luv u all…)

:-)

 

Dia bilang aku penghianat! March 17, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku — Hasian Cinduth @ 5:17 pm

“Oh Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang jika sahabatku belum berhenti menyerangku dengan tatapan yang penuh kebencian di matanya?”

Aku tak tau entah sudah berapa lama aku duduk disini, yang pasti sejak matahari masih terasa menyilaukan hingga cahaya itu digantikan oleh bulan. Aku tak melakukan apapun di tempat ini, aku hanya sedang merasa bahwa duniaku sedang goyang sehingga aku perlu mengambil posisi yang ku tau tak akan membuatku celaka. Aku tak berniat kembali ke kamarku, sebab aku tak ingin bertemu dengan seseorang yang sudah membuatku terduduk tak berdaya disini, seseorang yang juga telah melukai perasaanku dengan perkataannya siang tadi.

Apakah aku bersalah? Aku hanya seorang manusia biasa yang juga mendapat berkat dari Tuhan untuk merasakan cinta. Aku tidak ingin bersikap naïf atau munafik, apalagi membohongi hati nuraniku yang mengatakan bahwa akupun berharap dicintai. Aku hanya sedang menjalankan takdirku, dengan caraku sendiri tentunya. Tapi apa yang terjadi siang ini membuat aku tak sanggup menahan amarah di dalam hatiku, bagaimanapun tak selayaknya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Siang tadi ku dapati sahabatku sedang duduk di depan meja tulis yang ada di kamarku. Aku tak menganggap itu sebuah kejutan, sebab memang dia sudah biasa keluar masuk kamarku tanpa pernah ku protes, karna dia sahabatku dan aku percaya padanya. Tapi kali ini wajahnya terlihat muram, aku yang baru saja datang jadi terheran-heran.

“Hei Wit, dah lama disini?” Aku berusaha menyapanya wajar.
“….” Dia diam, tak menjawab.
“Kenapa? Lagi sakit gigi lagi yah?” Aku berusaha menebak.
“Enggak!” Ohh, akhirnya dia bersuara juga.
“Trus?”
“Aku mau nanya sesuatu. Tapi kau harus jawab dengan jujur!”
“Hmm.. ku pertimbangkan! Emang mau nanya apa?”
“Kau suka ya sama Egi?” Dia bertanya sambil menatapku tajam.

Aku terperanjat mendengar pertanyaannya. Hatiku gentar melihat kemarahan yang terpancar dari matanya. Dan dia sukses membuaku tak sanggup berkata-kata.

“Jawab! Kau suka kan sama Egi?” Dia mengulang pertanyaannya lagi.
“Kau….”
“Sudah, tak perlu mengelak lagi. Aku sudah tau semuanya!” Dia tak memberiku kesempatan untuk berbicara.
“Aku gak nyangka kau setega itu! Kau jahat!” Dia semakin meninggikan suaranya.
“Kau membaca diary-ku?”
”Iya. Aku sudah baca semua isinya! Ku pikir kau sahabat terbaikku, aku selalu cerita semuanya sama mu, tapi nyatanya justru kau yang menghianati aku. Kau jelas-jelas tau kalau aku suka Egi, tapi kau malah suka juga sama dia!”
”Menghianati?”
“Iya. Kau penghianat! Aku tak mau lagi menjadi temanmu!”

Wajahku memerah mendengar pernyataannya. Dia bilang aku penghianat! Aku penghianat! Tidak dengarkah kau? Dia bilang aku penghianat! Setelah itu, dia berlalu dari hadapanku dengan amarah yang menggebu-gebu di dalam hatinya.

Aku terduduk lemas di sisi tempat tidurku dan memandang ke arah laci meja yang terbuka lebar. Mataku terasa panas dan aku yakin sebentar lagi akan ada air mata yang mengucur deras. Apakah aku bersalah? Apakah aku seorang penghianat? Aku tak pernah berniat menyakiti hatinya, bahkan terpikirpun tidak!

Aku memang mencintai Egi, sudah lama. Tapi sejak ku tau kalau sahabatku juga menyukainya, aku mundur teratur. Ku tahan semua asmara yang menggebu di dalam hatiku, demi sahabatku. Ku urungkan niatku untuk mendekatinya lebih jauh lagi karna aku ingin sahabatku bahagia, bahagia bersama dengan orang dicintainya. Meski hatiku akan terasa sangat sakit, akan ku tahan semampuku. Ku korbankan perasaanku demi sahabatku, tapi sekarang dia mengataiku sebagai penghianat! Salahkah aku atas perasaanku ini?

Aku masih belum bisa melupakan tatapan matanya yang penuh dengan kebencian. Ah sudahlah, aku tak bisa seperti ini terus, aku harus menjelaskan semuanya padanya Sekalipun dia akan tetap memusuhiku, aku tak peduli. Setidaknya aku sudah memberikan pembelaan terhadap diriku sendiri. Ku langkahkan kaki dengan gontai, aku benar-benar tak bersemangat lagi.

Di tangga, aku berpapasan dengannya. Aku terkesiap, tak siap menghadapi kenyataan berjumpa dengannya secepat itu. Aku memandang ke arahnya, dia memalingkan wajah. Ku urungkan niatku untuk menjelaskannya sekarang, mungkin bukan waktu yang tepat.

Dua hari berlalu, dan kami masih saling melancarkan aksi diam. Oh Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang jika sahabatku belum berhenti menyerangku dengan tatapan yang penuh kebencian di matanya. Aku harus menyelesaikan masalah ini,pikirku. Maka dengan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat, ku beranikan diri mengetuk pintu kamarnya yang berada tepat di sebelah kamarku.

Tak ada sahutan dari dalam, maka ku buka saja pintu kamarnya. Dia ada di dalam sedang duduk di depan meja tulisnya. Melihat kedatanganku, dia langsung beringsut dan berbaring di kasurnya. Tak lupa di tangkupkannya sebuah bantal ke wajahnya, seolah mengisyarakanku bahwa dia tak ingin melihat wajahku.

“Wit…” Aku berujar pelan kemudian mengambil napas panjang.
“….” Dia tak bergeming
“Aku mau ngejelasin semuanya. Aku tau kau marah, dan mungkin tak ingin lagi berteman denganku. Aku akan mengerti keputusanmu itu, tapi aku ingin kau dengar penjelasanku.”

Hening. Dia masih tetap diam, tak bersuara sama sekali. Kali ini dia menelungkupkan badannya dan meletakkan bantal itu di atas kepalanya. Dia benar-benar tak menginginkan penjelasanku. Tapi aku tak kan menyerah.

“Wit, aku akui, aku memang suka sama Egi. Itu sudah lama. Aku tak tau apakah aku bersalah atas perasaanku itu. Tapi wit, kau harus tau, aku tak melakukan apapaun padanya atas dasar perasaan sukaku. Aku tau kau juga menyukainya, makanya aku selalu berusaha menahan perasaanku sendiri demi perasaan sukamu itu. Apapun yang kau minta, yang berhubungan dengan Egi, aku selalu melakukannya. Saat kau titipkan salam mu untuknya, aku selalu menyampaikannya dengan ikhlas. Tapi bisakah kau bayangkan bagaimana sakitnya hatiku saat menyampaikan itu? Kau selalu minta ku temani untuk menjumpainya, aku tak pernah menolak. Aku pun ikhlas, wit. Tapi taukah kau sakitnya hatiku saat ku lihat orang yang ku cintai sibuk berceloteh dengan wanita lain dihadapanku, sekalipun wanita itu adalah sahabatku sendiri. Aku selalu tersenyum saat mendengar kisahmu dengannya yang kau ceritakan dengan begitu semangatnya, padahal hatiku kadang menangis, tapi aku ikhlas wit. Bisakah kau rasakan itu? Itu semua ku lakukan untukmu, karna aku sayang samamu wit, aku ingin kau bahagia. Aku tak peduli pada keadaan hatiku yang mungkin sudah berantakan, demi kebahagiaanku aku benar-benar tak peduli. Sekarang kau bilang aku hanya seorang penghianat, apakah aku sehina itu? ”.

Aku diam sesaat.

“Wit, jawablah aku. Apakah aku sehina itu? Apakah di matamu aku hanya seorang penghianat?”
“…”

Dia benar-benar tak ingin bicara denganku. Dia tak menjawab, bahkan bergerak pun tidak. Tapi itu tak masalah, setidaknya sudah ku katakan apa yang ingin ku katakan padanya. Hatiku lega. Aku bergerak perlahan dari kamarnya, ku tinggalkan dia dalam kebisuannya.

Beberapa hari kemudian.

“Tya, Ada yang manggil tuch di bawah.”
“Siapa?”
“Kak Retha.”
“Oke..oke..”

Aku segera turun untuk menjumpai seorang kakak yang sudah ku anggap layaknya kakak kandungku sendiri. Tapi selain dia, ada seseorang lagi yang sudah seminggu ini tak mau bertegur sapa denganku. Dia Wita, sahabatku. Wita pun cukup dekat dengan Kak Retha, jadi aku tak perlu heran mengapa dia ada disitu juga.

“Hai kak. Pa kabar? Tumben nich ke sini?” Aku menyapanya ramah kemudian mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanannya.
“Enggak. Cuma pengen ketemu kalian berdua aja. Bolehkan?”, balasnya.
“Ya bolehlah. Masa gak boleh? ” Ku sahuti dengan sebuah senyuman di wajahku.
“Kakak dengar kalian lagi berantam yah? Ada apa?”
“Kata siapa?” Aku langsung menjawab.
“Ada dech. Jawab aja. Ada yang mau cerita ma kakak gak?”

Ku pandang sekilas ke arah Wita. Dia diam saja.

“Ayo donk de, cerita ma kakak. Kenapa kalian berantam?”
“Gak ada kok kak yang lagi berantam!” jawabku.
“Udah dech, gak usah ditutup-tutupi lagi.” Kak Retha masih berusaha menyelidiki.
“Ah…gossip tuh. Emang kita lagi berantam, Wit? Enggak kan?” Aku berbicara pada Wita, yang kemudian melirik ke arahku.
“Enggak kok kak. Kami gak berantam. Beneran!” Kali ini dia buka mulut.
“Oh, kalau gitu kakak ingin lihat kalian duduk bersisian. Trus berbicara seperti biasanya.” Kak Retha mencoba menguji kebenaran ucapan kami.

Aku langsung berdiri dan kemudian duduk di samping Wita. Aku tertawa dan berkata “ihhh..udah liat kan? Kami gak lagi berantam kok. Kakak percaya dehhh.”
“Oke..oke. Kakak percaya. Syukurlah kalau memang tak ada apa-apa. Kakak hanya ingin memastikan kalau semuanya baik-baik saja.”

Setengah jam pun berlalu, dan aku berusaha mewajarkan diriku sewajar-wajarnya, tertawa dan bercanda seperti biasa. Tak lama kemudian kak Retha pun pulang. Sekarang tinggal aku dan Wita. Aku terdiam, sandiwarapun tak perlu dilanjutkan lagi.

“Aku naik duluan ya, Wit.”
“….” Dia tak menjawab.

Aku berlalu dari hadapannya dan menuju kamarku yang ada di lantai dua.

“Tya….”. Aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang ketika aku sedang duduk melamun di kamar. Aku sangat mengenali suara itu. Itu suara Wita.
“Masuk aja. Gak dikunci kok” jawabku pelan.

Ku lihat matanya berkaca-kaca. Aku tak tau kenapa, padahal baru beberapa menit yang lalu dia mengabaikanku.

“Tya, aku minta maaf yah. Aku sudah menyakitimu dengan mengataimu sebagai penghianat. Aku bersalah. Akulah yang tak becus sebagai sahabatmu, aku tak bisa mengerti perasaanmu, aku bahkan tak memikirkan sakitnya hatimu selama ini. Aku yang jahat.” Dia mulai sesegukan diantara tangisnya.

Aku tersenyum. Ku raih dia dalam pelukanku, pertanda akupun ingin berdamai dengannya. Aku tak pernah membencinya. Tangisnya semakin memuncah manakala di dapatinya hatiku tanpa dendam untuknya.

“Sudahlah. Aku tak pernah membencimu. Aku juga mengerti perasaanmu.”
“Maafin aku yahhh…”
“Iya. Maafin aku juga!”

Kali ini ada air yang bening jatuh di pipiku. Aku menangis. Aku lega kini, sahabatku sudah kembali ke pelukanku, dan semestinya memang begitu. :-)

 

Bukan Cintaku… March 11, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku — Hasian Cinduth @ 4:44 pm

Aku bersalah karena membiarkannya menitipkan cintanya di hatiku, padahal cinta itu tak ku sentuh sama sekali. Aku memang bersalah.

“Tolong jangan paksa aku.”
“Aku akan terus memaksamu sampe kau mau.”
“Usahamu akan sia-sia”
“Aku yakin akan berhasil”
“Kau keras kepala”
“Terserah apa katamu, aku tak peduli”

Keadaan menjadi hening setelah itu.

“Please, aku gak bisa tanpamu!”
“Kau hanya tak mau berusaha”
“Aku sudah mencoba, tapi tetap gak bisa. Hanya kau yang bisa membuat aku semangat lagi.”
“Gombal”
“Aku gak gombal, dan aku gak tau apa itu gombal. Aku serius.”
“Sudahlah, apa gak ada topik lain yang bisa dibicarakan selain itu?”
“Gak ada. Aku hanya akan membicarakan tentang ini.”
“Aku bosan.”
“Plisss, aku benar-benar cinta kamu. Aku sayang kamu, kembalilah…”
“…..”

Keadaan hening kembali, kali ini dengan rasa bersalah yang menelusup ke dalam hatiku. Apa yang sudah ku lakukan padanya? Aku belum berhenti menggoreskan luka di dalam hatinya, dan aku masih menyiksa perasaannya dengan penolakan atas cintanya. Aku memang bersalah, setidaknya aku jujur tentang hal itu. Aku bersalah karna membiarkan dia masuk ke dalam hatiku. Aku bersalah karena membiarkan dia berharap lebih dariku. Aku bersalah karena membiarkannya menitipkan cintanya di hatiku, padahal cinta itu tak ku sentuh sama sekali. Aku memang bersalah.

Aku tak ingin merasa bersalah lebih banyak lagi, hingga akhirnya ku putuskan untuk berlalu dari hidupnya. Ku putuskan hubungan dengan tiba-tiba, setidaknya begitulah katanya, tanpa tanda-tanda dan tanpa persetujuan darinya. Aku meninggalkannya begitu saja hanya dengan sebuah pesan “Maafkan aku, sepertinya aku tak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Aku mau kita putus.” Tak ku hiraukan lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya, karna aku tak tau bagaimana cara menjelaskannya. Aku memang bersalah, karna sampai saat ini tak satupun penjelasan ku berikan padanya.

Sebenarnya dia itu baik, dia sama sekali gak pernah marah meski aku selalu berusaha membuatnya mendongkol, dia selalu sabar menghadapi semua sifat kekanak-kanakanku. Hingga akhirnya aku sadar, dia tak pantas ku sakiti lebih jauh lagi. Dia layak berbahagia, mungkin dengan oranglain.

Aku tak pernah bermaksud mempermainkan hatinya, apalagi menjadikannya pelampiasan atas kekecewaan hatiku. Menyebutnya sebagai pelampiasan mungkin terlalu kejam. Aku hanya berusaha untuk belajar mencintai dia, tapi ternyata hatiku tak bisa, dan aku tak bisa memaksa. Mungkin aku butuh waktu untuk itu.

Aku hanya tak mau menyakitimu lebih jauh lagi. Kau terlalu berharga untuk ku perlakukan seperti itu, dan aku tak mau semakin merasa bersalah. Kau pantas untuk bahagia, raihlah cinta itu, tapi bukan cintaku.

Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya

Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Suatu saat nanti kau ‘kan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yang tak pernah menyatu

Maafkan aku yang biarkanmu
Masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
Walau ku tak ingin

Semakin terasa cintamu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

I’ll let you go…