Tapi, demi Tuhan, keadaanku sungguh memalukan. Saat ini aku hanya memakai kaus singlet kumal, masih dengan jeans pendek yang molor dan harus selalu ku pegangi jika tidak ingin melorot. Dan rambutku? Oh, benar-benar acak-acakan….
Seperti biasanya, pagi ini aku kembali berdiri di ujung gang sempit dan bau, tepat di seberang rumah seorang gadis cantik. Ku hisap pelan rokok yang ada di antara kedua jariku, sudah setengah jam aku menunggunya. Nah, itu dia!
Ku amati setiap gerak-geriknya sejak dia membuka pintu rumahnya. Dia sedikit membungkuk sambil meraih tangan hangat wanita yang tak kalah cantiknya, wanita itu ku kenal sebagai ibunya, dan kemudian mencium tangannya dengan lembut. Oh, betapa hormatnya gadis itu pada orang tuanya, dimana jaman sekarang kebiasaan seperti ini jarang ditemukan. Kemudian gadis itu berjalan cepat, ahaaa…aku tau! Seorang temannya pasti sudah menunggunya di ujung jalan, aku sudah hafal aktivitasnya di pagi hari.
Ku jatuhkan puntung rokokku, yang sekali injak langsung mati dan dengan cepat ku tegakkan tubuhku sembari aku berdehem kecil.
“Ehmmmm….”
Ku harap dia melihatku, oh tidak perlu, mungkin jika dia mau melirikku saja, aku akan sangat bahagia. Tapi malang, kali inipun, aku masih belum beruntung. Tak apa, lain kali akan ku coba lagi.
Aku pulang ke rumah dengan lunglai, celanaku yang molor ku tarik dengan asal saja, tapi kemudian melorot lagi.
“Kamu dari mana saja, pagi-pagi kok sudah kelayapan?”
“Ma, apa mama tidak punya peribahasa lain untuk diucapkan? Setiap hari hanya itu-itu saja!”
”Apa kamu pergi melihat gadis itu lagi?”
”Ya ma, aku sangat menyukainya.”
”Berhentilah mengejarnya. Dia itu anak orang berada.”
”Oh mama, aku benci dengan pengkotak-kotakan ini!”
”Tapi itulah kenyataan.”
”Tidak, aku akan terus mengejarnya sampai dia mau!”
”Dan ayahnya akan menyerahkanmu dengan senang hati ke polisi! Sudah, tak usah banyak bicara lagi, sekarang juga kamu harus mandi sebelum mama muntah mencium bau badanmu.”
Aku berlalu sambil berpikir keras mengingat ucapan mama. Dia adalah anak orang kaya, sementara aku hanya seorang pengangguran, anak seorang tukang jagal pula. Tak ada yang bisa ku banggakan dari diriku.
”Hei pemalas, benar-benar manusia tak berguna!”
Aku menoleh, mencari asal suara sumbang yang membuat darahku mendidih.
”Kenapa? Kau ingin menantangku? Dasar sinting, begitu tebal muka sampai berani mengejar anak orang kaya!”
”Lalu apa urusanmu? Apakah anakmu yang ku kejar?”, balasku.
”Cuih, aku gak sudi punya menantu tak berguna sepertimu. Dasar orang gila!”
Oh tidak, aku benci dikatai gila! Aku tidak gila! Sungguh!! Aku masih waras, hanya saja minuman beralkohol sering melemahkan kesadaranku. Kemudian aku teringat akan gadisku, apakah dia berpikiran sama dengan wanita bermulut tajam ini? Apakah dia juga menganggapku gila?
Esok paginya aku berdiri lebih awal di ujung gang yang sama. Aku berharap mendapat keberuntungan di pagi ini. Tapi kenapa malah segerombolan bocah yang muncul? Mereka memakai gaun yang indah, yang laki-laki berpakaian rapi. Mereka berteriak bersamaan, tepat saat mereka melihatku berdiri di ujung gang.
”Lariiiii….ada orang gila!!”
”Mamaaaa…..aku takut!!”, teriak yang lainnya.
Dasar bocah-bocah sialan, bocak tengik!! Akan ku pukul jika bertemu denganku lagi!
Hari inipun aku masih belum beruntung. Dia, gadisku, belum melihatku!
Aku pulang ke rumah, kali ini melalui jalan raya, tidak seperti biasanya.
Oh, aku sungguh melihatnya, melihat gadisku di kejauhan.
Mmmm, ini benar-benar kesempatan emas!!!
Tapi, demi Tuhan, keadaanku sungguh memalukan. Saat ini aku hanya memakai kaus singlet kumal, masih dengan jeans pendek yang molor dan harus selalu ku pegangi jika tidak ingin melorot. Dan rambutku? Oh, benar-benar acak-acakan, dengan muka kusam dan mata merah akibat terlalu banyak menenggak minuman beralkohol. Sendalku pun hanya sendal jepit yang talinya sudah putus sebelah.Ah, tak apa, asalkan aku bisa menyapa gadisku.
Ketika jarak kami sudah dekat, ku coba menyapanya.
”Pssstt…cewek!”
”Arrgghhhh…dasar orang gila!!!” Ku dengar temannya menjerit ketakutan sambil berlindung di balik punggung gadisku.
”Mau kemana?”, tanyaku lagi.
Aku semakin mendekati posisi gadisku, sementara dia semakin terpojok di tepi got, dia mencoba menjaga jarak denganku.
”Arrrrgghhh…pergi..pergi!! Kali ini pun masih mulut bawel temannya yang berteriak.
Ku tatap gadisku dan ku langkahkan kakiku ke arahnya. Dia ketakutan, mukanya pucat dengan mata menyipit. Ekspersi wajahnya saat ini persis seperti ekspresi adik perempuanku yang ketakutan saat ku angkat seekor kecoa ke hadapannya. Bedanya, adikku menjerit dan menangis, tapi gadisku hanya diam saja. Tapi masih dapat ku tangkap kengerian di wajahnya saat ku dekati.
”Oh, jangan takut cantik, aku takkan melukaimu”, kataku dalam hati.
”Arrghhh, ayo pergi!!!” Ku lihat temannya menarik tangan gadisku dengan cepat, dan kemudian mereka berdua berlari kencang.
”Sial…!!!”. Aku menggerutu dalam hati.
Ku lanjutkan lagi perjalananku menuju rumah melalui jalan pintas, gang lain yang ada di daerah ini.
Tapi sejak kejadian itu, aku tidak dapat lagi melihat gadisku. Kenapa? Karna di hari yang sama aku masuk penjara. Penjara? Ya benar, penjara….
Siang itu segerombolan anak-anak yang sedang bermain di gang mengolok-olokku.
Kata mereka, ”Orang gila…..orang gila…!!!”
Mereka mengikutiku dari belakang sambil bertepuk tangan, persis seperti ketika mereka melihat segerombolan pelakon topeng monyet.
”Kurang ajar, cepat pergi!!!”, hardikku.
”Orang gila…..orang gila….!!”
Mereka malah semakin kegirangan. Aku tak sabar lagi, lalu ku kejar mereka dan ku tangkap salah satunya. Tak hanya itu, aku juga mendaratkan jitakan kuat di keningnya sampai terlihat benjolan.
Ternyata ibunya anak itu tak terima dengan perlakuanku. Dia menghantamkan sebuah balok berukuran sedang tepat di kepalaku, akibatnya kepalaku pun berdarah. Setelah itu, dia memanggil polisi dan beramai-ramai dengan penduduk lain menuduhku sebagai pengganggu ketenangan masyarakat. Saat itu tak ada yang dapat membelaku, bahkan ibuku hanya menangis sedih, tak dapat melawan kehendak orang banyak. Aku ini sungguh pria yang malang.
Tapi, adakah yang tau kabar gadisku? Apakah dia baik-baik saja?
*****************************************************************
PS:
Seperti biasa juga, tulisan kali ini ku dedikasikan buat teman-temanku yang sudah bersedia membaca blogQu dan juga ninggalin coment.
. Makasih juga buat semua requestnya yah…
Dedicated to:
1. Bastanti Tamba Muda Adek Ranto. (*Hahaha, pish bang… i luph yu…)
2. Etha Maretha Sumarjono Labamba. (* Udah kan bu??
)
3. Primadona Cikoko Pardede, edaku yang baek kayak itonya. (*Puas kau don? :p )
4. Echa buaya, si ketua geng ”CUNGKRING”.
5. Debora ”Say” Hutagalung. (* Udah ada namamu kan bu?
)
6. Metal Girlz, Pempok, Piteng dan Awok. Luph u all buuuuu……. ![]()
7. Buat semua anak aspi 05 yang namanya gak bisa disebutin satu-satu. Udah include lah klen semua di dalamnya yah?
