RSS

End of the story

11 Aug

“Aku berangkat hari Rabu depan”.

Begitu isi pesan singkat yang dikirimkannya padaku sore ini. Aku terdiam. Lalu kenapa jika hari Rabu depan kau harus pergi?

“Aku pengen ketemu kamu sebelum aku pergi, bisakah?”

Ku baca lagi isi pesan kedua yang dikirimkannya.

Tiba-tiba hatiku terasa sangat sakit, bukan karna aku harus kehilangannya dalam beberapa hari kedepan, tapi karena dia tak bisa berhenti menambah luka dihatiku, bahkan sampai saat ini.  Untuk apa mengajakku bertemu? Untuk memastikan apakah aku akan menahannya tetap tinggal disisiku? Atau ingin tau seberapa besar inginku untuk memilikinya?

Ku pejamkan mataku. Ku ingat-ingat lagi saat pertama bertemu, menghabiskan waktu bersama, lalu ku tau bahwa aku hanya seorang pengganggu, sweet disaster, si orang ketiga! Meski begitu kami masih bertemu beberapa kali, sekedar menghabiskan waktu dan kemudian ku dapati hatiku tak bisa ku bohongi, aku tak ingin menjadi seseorang yang keberadaannya selalu disembunyikan olehnya, sungguh menyakitkan hati. Tak tahan dengan semua itu, akhirnya ku ambil keputusan untuk pergi, aku tak boleh egois dan aku harus berlalu dari kehidupannya. Aku menyerah.

Dan disinilah aku sekarang, berputar-putar dalam kenangan dan bingung dengan perasaanku sendiri. Perasaanku? Bukan, tapi perasaannya. Perasaannya yang tidak konsisten, seolah sangat menginginkanku tapi nyatanya tak memilih bersamaku. Lalu sekarang aku harus bagaimana? Jelas-jelas kau tak memilihku, lalu mengapa masih berharap bertemu denganku? Apa maumu? Ingin melihatku menangis dihadapanmu dan memohon agar kau tidak tinggalkanku? Tidak akan!

Ku putuskan untuk tidak membalas pesan darinya, beberapa kali panggilan darinya pun tak ku gubris. Hatiku sudah sangat lelah, mengertilah. Ku putar sebuah lagu sendu untuk mengiringi ketidakberdayaanku.

tahu bagaimana rasanya mencinta
dia yang takkan pernah mencintaimu
tahu bagaimana rasanya merindu
dia yang takkan ingin membalas rindumu

ku tahu rasanya, sakitnya karna kau yang tak pernah mau tau akan cintaku
ku tahu rasanya, sampai memilukan engkau tetap tak bisa pedulikan hatiku

tahu bagaimana rasanya memanggil
dia seolah tuli tuk teriakmu
dan tau bagaimana rasanya menangis
dia yang takkan pernah merasa melukaimu

cobalah kau sedikit mengerti
betapa sulitnya menjadi aku
ku jatuh terlalu dalam dihatimu
kini kamu tau rasaku, inginku, jeritan rasaku

berhentilah menjadi lelaki itu
mengertilah sulitnya menjadi aku
mengertilah…

sudah matikah rasamu tuk mengerti sakitku
apa karna mati rasamu kau harus tak peduli

(by : Lala Purwono)

Hari Rabu sudah berlalu dan aku tetap pada ketetapan hatiku, berlalu dari hidupnya. Namun di Jumat yang ku rasa kelabu ini, ku kirimkan sebuah pesan padanya. Bukan bermaksud kembali padanya, hanya ingin menunjukkan bahwa aku turut berbahagia atas pilihan hidupnya, dan aku adalah wanita yang tegar, kuat dan hatiku seluas samudera untuk mengakhiri kisah ini. Kisah ini harus berakhir dihari ini, untuk selamanya.  Seiring terkirimnya pesan ini, maka ku tutup juga lembaran kisah tentangnya dalam buku kehidupanku.

“Happy Wedding.”

sent!

Advertisement
 

About hasian cinduth

dengan segala kekurangan dan kelebihan yang melekat padaku, Tuhan menjadikanku SPECIAL untuk-Nya..

2 Responses to End of the story

  1. een

    August 11, 2011 at 7:05 pm

    Hmmm … Ini lnjutan cerita yg kmrn kan gilak ???? Akhirnya ya … Mhmmmm …

     
  2. Ririn

    August 11, 2011 at 10:07 pm

    really nice .. :)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.