Because I'm special

cinta roller coaster

Kadang aku merasa cintaku begitu besar padamu
Begitu tinggi dan tak terhingga, seluas angkasa.

Kurasakan betapa bahagia aku menjadi kekasihmu
Bercanda dan tertawa bersama, berlarian di depan orang banyak
Begitu lepas dan bebas, sebebas aku mengekspresikan perasaanku.

Betapa bersyukurnya aku melihatmu terbahak-bahak, saat aku sibuk menghapus air mataku
Air mata yang selalu keluar setiap kali aku merasa kata-kata dan tingkahmu sangat lucu
Aku tertawa sampai menangis.

Dan aku semakin mencintamu manakala aku dalam dekapanmu,
Bersandar nyaman sambil menggenggam tanganmu dan berdoa semoga ini untuk selamanya.
Aku mencintamu…

Namun kadang aku merasa kau seperti tidak perduli padaku,
Saat semua tidak sesuai dengan inginku dan mauku..
Aku menudingmu tak sayang padaku
Padahal kau hanya sedang bingung dengan sikapku.

Aku ingin bertengkar denganmu, meluapkan isi hatiku
Namun kau tak menanggapi, hanya diam sambil menggenggam tanganku
Lagi-lagi aku menuduhmu tak peduli pada perasaanku
Padahal kau hanya ingin menunjukkan bahwa kau sangat sabar padaku

Disaat aku kesal, marah, mauku tak dipenuhi dan merasa diabaikan olehmu,
Aku merasa seperti terjatuh dan terhempas dari langit,
Terluka karena pikiran dan perasaanku sendiri.

Lalu kau datang, memelukku dengan hangatnya, masih tanpa kata-kata
Saat itu, aku merasa masalahku tak perlu penyelesaian
Yang ku inginkan mungkin hanya sebuah pelukan dan mungkin sebuah kecupan di kening.

Aku semakin mencintamu, karena kau selalu bisa mengalahkan egoku.
Aku mencintamu…
Kadang begitu tinggi, kadang begitu rendah seperti roller coaster.

3 Comments »

End of the story

“Aku berangkat hari Rabu depan”.

Begitu isi pesan singkat yang dikirimkannya padaku sore ini. Aku terdiam. Lalu kenapa jika hari Rabu depan kau harus pergi?

“Aku pengen ketemu kamu sebelum aku pergi, bisakah?”

Ku baca lagi isi pesan kedua yang dikirimkannya.

Tiba-tiba hatiku terasa sangat sakit, bukan karna aku harus kehilangannya dalam beberapa hari kedepan, tapi karena dia tak bisa berhenti menambah luka dihatiku, bahkan sampai saat ini.  Untuk apa mengajakku bertemu? Untuk memastikan apakah aku akan menahannya tetap tinggal disisiku? Atau ingin tau seberapa besar inginku untuk memilikinya?

Ku pejamkan mataku. Ku ingat-ingat lagi saat pertama bertemu, menghabiskan waktu bersama, lalu ku tau bahwa aku hanya seorang pengganggu, sweet disaster, si orang ketiga! Meski begitu kami masih bertemu beberapa kali, sekedar menghabiskan waktu dan kemudian ku dapati hatiku tak bisa ku bohongi, aku tak ingin menjadi seseorang yang keberadaannya selalu disembunyikan olehnya, sungguh menyakitkan hati. Tak tahan dengan semua itu, akhirnya ku ambil keputusan untuk pergi, aku tak boleh egois dan aku harus berlalu dari kehidupannya. Aku menyerah.

Dan disinilah aku sekarang, berputar-putar dalam kenangan dan bingung dengan perasaanku sendiri. Perasaanku? Bukan, tapi perasaannya. Perasaannya yang tidak konsisten, seolah sangat menginginkanku tapi nyatanya tak memilih bersamaku. Lalu sekarang aku harus bagaimana? Jelas-jelas kau tak memilihku, lalu mengapa masih berharap bertemu denganku? Apa maumu? Ingin melihatku menangis dihadapanmu dan memohon agar kau tidak tinggalkanku? Tidak akan!

Ku putuskan untuk tidak membalas pesan darinya, beberapa kali panggilan darinya pun tak ku gubris. Hatiku sudah sangat lelah, mengertilah. Ku putar sebuah lagu sendu untuk mengiringi ketidakberdayaanku.

tahu bagaimana rasanya mencinta
dia yang takkan pernah mencintaimu
tahu bagaimana rasanya merindu
dia yang takkan ingin membalas rindumu

ku tahu rasanya, sakitnya karna kau yang tak pernah mau tau akan cintaku
ku tahu rasanya, sampai memilukan engkau tetap tak bisa pedulikan hatiku

tahu bagaimana rasanya memanggil
dia seolah tuli tuk teriakmu
dan tau bagaimana rasanya menangis
dia yang takkan pernah merasa melukaimu

cobalah kau sedikit mengerti
betapa sulitnya menjadi aku
ku jatuh terlalu dalam dihatimu
kini kamu tau rasaku, inginku, jeritan rasaku

berhentilah menjadi lelaki itu
mengertilah sulitnya menjadi aku
mengertilah…

sudah matikah rasamu tuk mengerti sakitku
apa karna mati rasamu kau harus tak peduli

(by : Lala Purwono)

Hari Rabu sudah berlalu dan aku tetap pada ketetapan hatiku, berlalu dari hidupnya. Namun di Jumat yang ku rasa kelabu ini, ku kirimkan sebuah pesan padanya. Bukan bermaksud kembali padanya, hanya ingin menunjukkan bahwa aku turut berbahagia atas pilihan hidupnya, dan aku adalah wanita yang tegar, kuat dan hatiku seluas samudera untuk mengakhiri kisah ini. Kisah ini harus berakhir dihari ini, untuk selamanya.  Seiring terkirimnya pesan ini, maka ku tutup juga lembaran kisah tentangnya dalam buku kehidupanku.

“Happy Wedding.”

sent!

4 Comments »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 110 other followers