Ataukah kau butuh waktu untuk menyelesaikan semua ’urusanmu’ dengannya dan kemudian datang padaku?
“Ngantuk yah? Mata-nya sayu gitu.”
”Enggak kok.”
”Kalau emang ngantuk, tidur aja… sini!”
And then, he put my head on his shoulder…
“Jangan dipijit-pijit, kepalaku gak sakit kok.”
”Gak papa…biar enak tidurnya.”
”Jangan, nanti aku jadi ngantuk beneran.”
”Hahaha…ga papa, tidur aja kalau emang ngantuk.”
I know, I felt comfort when his hand gently massaged my head…
Tapi, sebesar apa rasa nyaman yang ku miliki itu, maka berkali lipat dari itu juga besarnya rasa bersalah yang ku miliki saat kepalaku bersandar dengan nyaman di bahunya.
Oh damn, pria yang sedang ada di sebelahku ini berstatus pacar dari seseorang, dan aku tau itu dengan pasti..
‘Lalu, jika kau tau dia adalah pacar dari seseorang, mengapa kau masih bisa bersandar dengan tenang di bahunya?’
Begitukah pertanyaan yang terlintas di benakmu?
Jika ya, maka sama persis dengan yang ada di kepalaku.
Tapi aku tak tau jawabnya… can’t describe this feeling clearly.
Oke, di satu sisi aku memang bersalah karna aku tau hal ini salah, tapi tak bisa ku hentikan.
Tapi di sisi lain, aku juga yakin bahwa ’perasaan’ tak bisa disalahkan.
Oh tidak, perasaan apa sih yang ku maksud? Semakin membingungkan saja.
”Hmm, aku boleh minta sesuatu gak?”
”Apa?”
”Kalau boleh, kamu jangan pacaran dulu yah…paling enggak selama dua tahun ini.”
”Tujuannya?”
”Yah, pokoknya jangan aja deh..”
”Aku gak mau.”
”Kenapa?”
”Karna aku gak mau melakukan sesuatu yang gak jelas. Besok juga aku bisa pacaran kalau memang ada pria yang sanggup membuatku jatuh cinta. ”
”Hmmm…plis!”
”No!”
Untuk apa memintaku untuk tidak berpacaran dulu?
Supaya kau bisa memutuskan siapa yang akan kau pilih pada akhirnya, apakah aku atau dia?
Begitukah…?
Ataukah kau butuh waktu untuk menyelesaikan semua ’urusanmu’ dengannya dan kemudian datang padaku?
Semua ini sepertinya semakin gila saja, aku tak habis pikir.
”Jadi, kalau ada pria yang mendekatimu dan sanggup membuatmu jatuh cinta kau akan pacaran dengannya?”
”Yes, of course!”
”Benar?”
”Apakah masih ada yang perlu kau ragukan?”
”Plis…jangan lakukan itu!”
Now, you hold my hand tightly…
Ada rasa hangat yang menjalar saat tangannya menggenggam jemariku. Namun rasa bersalah kembali berkecamuk di kepala, tapi maaf karna aku tak bisa menghentikan ini semua, karena jujur saja aku merindukan saat-saat seperti ini, saat seorang pria menggenggam jemariku dengan eratnya.
Ku pejamkan mataku sesaat dan ku tau kau melihat wajahku lekat, karna dapat ku rasakan hembusan nafasmu yang menyapu wajahku.
Kau sentuh wajahku, mengusapnya dengan pelan… Dan ku tangkupkan tanganku di atas tanganmu, ku genggam sesaat dan kemudian ku lepas dari wajahku.
”Pulang yuk, aku beneran ngantuk sekarang, pengen tidur aja.”
”Hmm… ya udah, ku antar yah?”
“Iya..”
Dalam perjalanan pulang, tak satu katapun yang ku ucapkan. Aku terlalu sibuk memikirkan perasaan bersalahku…
Really wanna say sorry to his girlfriend for that ’damn’ things…
Maaf karena aku telah bersandar di bahu kekasihmu…
Maaf karena aku tak bisa melepas jemariku dari genggaman kekasihmu…
Maaf karena aku merasa nyaman dengan kekasihmu…
Sorry for last night….








