Aku tidak sedang menyerah pada keadaan, aku hanya sedang yakin bahwa ada tempat yang lebih layak untukku
Someone once told me that you have to choose
What you win or lose
You can’t have everything….
Lantunan lagu yang mengalun dari music player menyentakku dari lamunan panjang yang entah sudah berapa lama terjadi. Aku masih belum sepenuhnya tersadar saat ku dengar suara sepasang kaki yang sedang berjalan, tepat menuju ke arah kamarku. Suara itu kemudian berhenti, ku pikir tepat di depan pintu. Aku terdiam, menunggu ketukan pintu yang tak akan ku buka untuk siapapun, setidaknya untuk hari ini.
Dia tidak mengetuk, aku juga tak berniat menggerakkan kedua kakiku untuk sekedar melihat siapa dia. Ku lihat jam di dinding kamarku, sudah sepuluh menit dia berdiri disana, apa yang dilakukannya? Aku hanya mengira-ngira dalam pikiranku, masih tidak berniat bangkit untuk sekedar menilik. Kemudian dia berlalu, menuju pintu keluar.
Pintu ruang depan menutup dengan suara lembut, kelihatan sekali seseorang itu tak ingin menggangguku dengan suara apapun. Aku menghela nafas.
”Prangggg!!!”. Aku terkejut mendengar suara keras yang berasal dari sudut ruanganku. Bagaimana mungkin? Aku meloncat kecil dari ranjangku, menghampiri sesuatu yang telah terjatuh dari tempat seharusnya. Aku memandangi bingkai foto yang telah hancur itu masih dengan pandangan tak percaya. Itu adalah fotoku dengan Rio, kekasih yang telah meninggalkanku demi ambisinya. Ku raih lembaran foto dengan perlahan, berharap aku tak dilukai oleh pecahan kaca.
Pertanda burukkah itu?
Aku tak tau.
Lalu siapa orang yang tadi ada di depan pintu kamarku? Rio kah itu? Sekarang dapat ku rasakan air yang menetes di kedua pelupuk mataku. Aku masih belum rela kehilangannya.
”Ima…buka pintunya ma!”.
Aku menoleh ke arah pintu, si burung betet itu pasti hendak menggangguku lagi.
”Ima…pliss ma!! Buka pintunya… Kamu baik-baik aja kan?”
Aku mengangguk perlahan, sambil menyeka air mata yang masih menetes di pipiku, tapi sama sekali tak ku bukakan pintu itu untuk Nia, sahabatku.
”Oke..oke!! Aku tak akan mengganggumu lagi. Tapi jika kau butuh aku, aku ada di luar.”
Dia masih tak menyerah juga rupanya.
Don’t cha love in vain
Cause love won’t set you free
I could stand by the side
And watch this life pass me by
So unhappy
But safe as could be…
***
Ku langkahkan kakiku dengan gontai menuju lift, aku masih tidak bersemangat. Ku tekan angka 18 dengan asal, berharap lift ini akan membawaku ke sebuah tempat lain, bukan lantai 18 yang ku tau tak akan memberiku rasa nyaman.
“Ting!! “.
Aku berjalan keluar dari dalam lift menuju sebuah pintu kaca. Oh tidak, disana sudah ada seraut wajah yang memuakkan, membuat mood ku semakin tidak bisa diajak kompromi. Aku berusaha mengatur langkah kakiku setenang mungkin, meski ku tau wajahku tidak bisa menyembunyikan betapa inginnya aku berlari kencang. Wajah itu tersenyum sinis, terlihat sekilas olehku.
”Teruslah melangkah Ima, tak usah pedulikan mahkluk itu!!!” Aku terus berkata-kata dalam hatiku. Huff, akhirnya sampai juga di ruangan kerjaku. Ku hempaskan badan ke kursi empuk di hadapanku, aku tertunduk lesu. Haaaahhh, akankah hari ini dapat ku lalui dengan baik?
”Pagi Ima. Maaf yah mengganggu. Tadi Pak Wibowo nitip pesan, kamu disuruh ke ruangan beliau secepatnya”
Hah? Pak Wibowo? Ke ruangannya? Haduhhhh, aku pasti akan celaka! Kesalahan apalagi yang ku perbuat? Ada banyak pertanyaan yang bergentayangan di dalam kepalaku.
“Tok..tok..tok!!” Ku ketuk pintu ruangan Pak Wibowo dengan pelan.
“Masuk.” Suaranya yang berwibawa menyambut ketukanku.
“Selamat pagi Pak, saya mendapat pesan bahwa Bapak memanggil saya”, kataku pelan.
“Oh ya, silakan duduk dulu.” Dia masih terlihat berwibawa.
****************************************
Pertemuan satu jam di dalam ruangan itu telah berhasil membuatku semakin tak semangat hari ini. Arrrggghhhh….. Kenapa harus aku? Siapa makhluk sadis yang telah memfitnahku? Memberikan laporan palsu kepada atasan tentangku? Jika ku temukan, akan ku buat dia mengerti bagaimana rasanya jadi aku saat ini.
Semuanya terasa berat saat ini. Aku ingin pergi ke sebuah tempat yang hanya ada aku, sehingga tak perlu lagi ku dengar suara-suara sumbang yang memekakkan telingaku. Ku pikir aku tau aku harus pergi ke mana, ke sebuah pantai rahasia yang menjadi tempat favoritku.
Sekarang aku telah berdiri di tepi pantai yang indah ini. Aku terduduk, menekuk kedua lututku dengan erat, untuk pertama kali ku rasakan kemarahan yang seperti ini. Tubuhku bergetar menahan rasa sakit yang tak tertahankan lagi, ku pikir aku membutuhkan kehadiran Rio saat ini, tapi itu tak mungkin lagi.
Aku sungguh terluka dengan kepergiannya.
Dan kini rekan kerjaku mencoba menusukku dari belakang, pikirnya dia akan berhasil menjatuhkanku dari posisiku saat ini.
Semua seolah sedang memusuhiku, menjauhiku, dan membuat semuanya semakin terasa perih.
So what if it hurts me?
So what if I break down?
So what if this world just throws me off the edge?
Arrrggghhhh!!! Aku berteriak sekuat tenagaku, memuaskan segala sesak yang terasa. Ku lemparkan segenggam pasir yang sedari tadi ada di tanganku, seolah aku ingin menghilangkan kesedihan di dalam hatiku ke dalam lautan, biar pergi dariku. Ku seka air mataku, aku sudah lelah untuk menangisi keadaan ini, aku harus bangkit! Aku ingin bersemangat lagi menjalani hari-hariku, mengejar kebahagiaanku.
My feet run out of ground
I gotta find my place
I wanna hear myself
Don’t care about all the pain in front of me
Cause I’m just trying to be happy, yeah
Just wanna be happy
****
Sudah ku taruh dengan mantap sebuah amplop di hadapan Pak Wibowo. Aku tau, ini keputusan terbaik untukku, aku mengundurkan diri.
Aku tidak sedang menyerah pada keadaan, aku hanya sedang yakin bahwa ada tempat yang lebih layak untukku. Ku tatap sekali lagi wajah sadis beberapa hari lalu, yang kini ada di hadapanku.
It’s just that I can’t see
The kind of stranger on this road
But don’t say victim
Don’t say anything
Dan aku berlalu dengan cepat.
So what if it hurts me?
So what if I break down?
So what if this world just throws me off the edge
My feet run out of ground
I gotta find my place
I wanna hear myself
Don’t care about all the pain in front of me.
I just wanna be happy
======
PS:
Tulisan kali ini ku dedikasikan buat sisterQu, sister uwie yang manis dan BESAR. Hahaha.. just be happy sist… I Love You.
Dan juga buat teman-temanku yang ’sepertinya’ lagi ada masalah di kantornya masing-masing, keep chaiiooo girlz….
I Love Yu all….
Oh ya, buat Esther yang lagi ultah juga, “Heppi birthdei yah, just be happy too my frend…
“
