Coz I’m SpeCiaL

and I refuse to fall….

Dia bilang aku penghianat! March 17, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku — Hasian Cinduth @ 5:17 pm

“Oh Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang jika sahabatku belum berhenti menyerangku dengan tatapan yang penuh kebencian di matanya?”

Aku tak tau entah sudah berapa lama aku duduk disini, yang pasti sejak matahari masih terasa menyilaukan hingga cahaya itu digantikan oleh bulan. Aku tak melakukan apapun di tempat ini, aku hanya sedang merasa bahwa duniaku sedang goyang sehingga aku perlu mengambil posisi yang ku tau tak akan membuatku celaka. Aku tak berniat kembali ke kamarku, sebab aku tak ingin bertemu dengan seseorang yang sudah membuatku terduduk tak berdaya disini, seseorang yang juga telah melukai perasaanku dengan perkataannya siang tadi.

Apakah aku bersalah? Aku hanya seorang manusia biasa yang juga mendapat berkat dari Tuhan untuk merasakan cinta. Aku tidak ingin bersikap naïf atau munafik, apalagi membohongi hati nuraniku yang mengatakan bahwa akupun berharap dicintai. Aku hanya sedang menjalankan takdirku, dengan caraku sendiri tentunya. Tapi apa yang terjadi siang ini membuat aku tak sanggup menahan amarah di dalam hatiku, bagaimanapun tak selayaknya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Siang tadi ku dapati sahabatku sedang duduk di depan meja tulis yang ada di kamarku. Aku tak menganggap itu sebuah kejutan, sebab memang dia sudah biasa keluar masuk kamarku tanpa pernah ku protes, karna dia sahabatku dan aku percaya padanya. Tapi kali ini wajahnya terlihat muram, aku yang baru saja datang jadi terheran-heran.

“Hei Wit, dah lama disini?” Aku berusaha menyapanya wajar.
“….” Dia diam, tak menjawab.
“Kenapa? Lagi sakit gigi lagi yah?” Aku berusaha menebak.
“Enggak!” Ohh, akhirnya dia bersuara juga.
“Trus?”
“Aku mau nanya sesuatu. Tapi kau harus jawab dengan jujur!”
“Hmm.. ku pertimbangkan! Emang mau nanya apa?”
“Kau suka ya sama Egi?” Dia bertanya sambil menatapku tajam.

Aku terperanjat mendengar pertanyaannya. Hatiku gentar melihat kemarahan yang terpancar dari matanya. Dan dia sukses membuaku tak sanggup berkata-kata.

“Jawab! Kau suka kan sama Egi?” Dia mengulang pertanyaannya lagi.
“Kau….”
“Sudah, tak perlu mengelak lagi. Aku sudah tau semuanya!” Dia tak memberiku kesempatan untuk berbicara.
“Aku gak nyangka kau setega itu! Kau jahat!” Dia semakin meninggikan suaranya.
“Kau membaca diary-ku?”
”Iya. Aku sudah baca semua isinya! Ku pikir kau sahabat terbaikku, aku selalu cerita semuanya sama mu, tapi nyatanya justru kau yang menghianati aku. Kau jelas-jelas tau kalau aku suka Egi, tapi kau malah suka juga sama dia!”
”Menghianati?”
“Iya. Kau penghianat! Aku tak mau lagi menjadi temanmu!”

Wajahku memerah mendengar pernyataannya. Dia bilang aku penghianat! Aku penghianat! Tidak dengarkah kau? Dia bilang aku penghianat! Setelah itu, dia berlalu dari hadapanku dengan amarah yang menggebu-gebu di dalam hatinya.

Aku terduduk lemas di sisi tempat tidurku dan memandang ke arah laci meja yang terbuka lebar. Mataku terasa panas dan aku yakin sebentar lagi akan ada air mata yang mengucur deras. Apakah aku bersalah? Apakah aku seorang penghianat? Aku tak pernah berniat menyakiti hatinya, bahkan terpikirpun tidak!

Aku memang mencintai Egi, sudah lama. Tapi sejak ku tau kalau sahabatku juga menyukainya, aku mundur teratur. Ku tahan semua asmara yang menggebu di dalam hatiku, demi sahabatku. Ku urungkan niatku untuk mendekatinya lebih jauh lagi karna aku ingin sahabatku bahagia, bahagia bersama dengan orang dicintainya. Meski hatiku akan terasa sangat sakit, akan ku tahan semampuku. Ku korbankan perasaanku demi sahabatku, tapi sekarang dia mengataiku sebagai penghianat! Salahkah aku atas perasaanku ini?

Aku masih belum bisa melupakan tatapan matanya yang penuh dengan kebencian. Ah sudahlah, aku tak bisa seperti ini terus, aku harus menjelaskan semuanya padanya Sekalipun dia akan tetap memusuhiku, aku tak peduli. Setidaknya aku sudah memberikan pembelaan terhadap diriku sendiri. Ku langkahkan kaki dengan gontai, aku benar-benar tak bersemangat lagi.

Di tangga, aku berpapasan dengannya. Aku terkesiap, tak siap menghadapi kenyataan berjumpa dengannya secepat itu. Aku memandang ke arahnya, dia memalingkan wajah. Ku urungkan niatku untuk menjelaskannya sekarang, mungkin bukan waktu yang tepat.

Dua hari berlalu, dan kami masih saling melancarkan aksi diam. Oh Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang jika sahabatku belum berhenti menyerangku dengan tatapan yang penuh kebencian di matanya. Aku harus menyelesaikan masalah ini,pikirku. Maka dengan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat, ku beranikan diri mengetuk pintu kamarnya yang berada tepat di sebelah kamarku.

Tak ada sahutan dari dalam, maka ku buka saja pintu kamarnya. Dia ada di dalam sedang duduk di depan meja tulisnya. Melihat kedatanganku, dia langsung beringsut dan berbaring di kasurnya. Tak lupa di tangkupkannya sebuah bantal ke wajahnya, seolah mengisyarakanku bahwa dia tak ingin melihat wajahku.

“Wit…” Aku berujar pelan kemudian mengambil napas panjang.
“….” Dia tak bergeming
“Aku mau ngejelasin semuanya. Aku tau kau marah, dan mungkin tak ingin lagi berteman denganku. Aku akan mengerti keputusanmu itu, tapi aku ingin kau dengar penjelasanku.”

Hening. Dia masih tetap diam, tak bersuara sama sekali. Kali ini dia menelungkupkan badannya dan meletakkan bantal itu di atas kepalanya. Dia benar-benar tak menginginkan penjelasanku. Tapi aku tak kan menyerah.

“Wit, aku akui, aku memang suka sama Egi. Itu sudah lama. Aku tak tau apakah aku bersalah atas perasaanku itu. Tapi wit, kau harus tau, aku tak melakukan apapaun padanya atas dasar perasaan sukaku. Aku tau kau juga menyukainya, makanya aku selalu berusaha menahan perasaanku sendiri demi perasaan sukamu itu. Apapun yang kau minta, yang berhubungan dengan Egi, aku selalu melakukannya. Saat kau titipkan salam mu untuknya, aku selalu menyampaikannya dengan ikhlas. Tapi bisakah kau bayangkan bagaimana sakitnya hatiku saat menyampaikan itu? Kau selalu minta ku temani untuk menjumpainya, aku tak pernah menolak. Aku pun ikhlas, wit. Tapi taukah kau sakitnya hatiku saat ku lihat orang yang ku cintai sibuk berceloteh dengan wanita lain dihadapanku, sekalipun wanita itu adalah sahabatku sendiri. Aku selalu tersenyum saat mendengar kisahmu dengannya yang kau ceritakan dengan begitu semangatnya, padahal hatiku kadang menangis, tapi aku ikhlas wit. Bisakah kau rasakan itu? Itu semua ku lakukan untukmu, karna aku sayang samamu wit, aku ingin kau bahagia. Aku tak peduli pada keadaan hatiku yang mungkin sudah berantakan, demi kebahagiaanku aku benar-benar tak peduli. Sekarang kau bilang aku hanya seorang penghianat, apakah aku sehina itu? ”.

Aku diam sesaat.

“Wit, jawablah aku. Apakah aku sehina itu? Apakah di matamu aku hanya seorang penghianat?”
“…”

Dia benar-benar tak ingin bicara denganku. Dia tak menjawab, bahkan bergerak pun tidak. Tapi itu tak masalah, setidaknya sudah ku katakan apa yang ingin ku katakan padanya. Hatiku lega. Aku bergerak perlahan dari kamarnya, ku tinggalkan dia dalam kebisuannya.

Beberapa hari kemudian.

“Tya, Ada yang manggil tuch di bawah.”
“Siapa?”
“Kak Retha.”
“Oke..oke..”

Aku segera turun untuk menjumpai seorang kakak yang sudah ku anggap layaknya kakak kandungku sendiri. Tapi selain dia, ada seseorang lagi yang sudah seminggu ini tak mau bertegur sapa denganku. Dia Wita, sahabatku. Wita pun cukup dekat dengan Kak Retha, jadi aku tak perlu heran mengapa dia ada disitu juga.

“Hai kak. Pa kabar? Tumben nich ke sini?” Aku menyapanya ramah kemudian mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanannya.
“Enggak. Cuma pengen ketemu kalian berdua aja. Bolehkan?”, balasnya.
“Ya bolehlah. Masa gak boleh? ” Ku sahuti dengan sebuah senyuman di wajahku.
“Kakak dengar kalian lagi berantam yah? Ada apa?”
“Kata siapa?” Aku langsung menjawab.
“Ada dech. Jawab aja. Ada yang mau cerita ma kakak gak?”

Ku pandang sekilas ke arah Wita. Dia diam saja.

“Ayo donk de, cerita ma kakak. Kenapa kalian berantam?”
“Gak ada kok kak yang lagi berantam!” jawabku.
“Udah dech, gak usah ditutup-tutupi lagi.” Kak Retha masih berusaha menyelidiki.
“Ah…gossip tuh. Emang kita lagi berantam, Wit? Enggak kan?” Aku berbicara pada Wita, yang kemudian melirik ke arahku.
“Enggak kok kak. Kami gak berantam. Beneran!” Kali ini dia buka mulut.
“Oh, kalau gitu kakak ingin lihat kalian duduk bersisian. Trus berbicara seperti biasanya.” Kak Retha mencoba menguji kebenaran ucapan kami.

Aku langsung berdiri dan kemudian duduk di samping Wita. Aku tertawa dan berkata “ihhh..udah liat kan? Kami gak lagi berantam kok. Kakak percaya dehhh.”
“Oke..oke. Kakak percaya. Syukurlah kalau memang tak ada apa-apa. Kakak hanya ingin memastikan kalau semuanya baik-baik saja.”

Setengah jam pun berlalu, dan aku berusaha mewajarkan diriku sewajar-wajarnya, tertawa dan bercanda seperti biasa. Tak lama kemudian kak Retha pun pulang. Sekarang tinggal aku dan Wita. Aku terdiam, sandiwarapun tak perlu dilanjutkan lagi.

“Aku naik duluan ya, Wit.”
“….” Dia tak menjawab.

Aku berlalu dari hadapannya dan menuju kamarku yang ada di lantai dua.

“Tya….”. Aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang ketika aku sedang duduk melamun di kamar. Aku sangat mengenali suara itu. Itu suara Wita.
“Masuk aja. Gak dikunci kok” jawabku pelan.

Ku lihat matanya berkaca-kaca. Aku tak tau kenapa, padahal baru beberapa menit yang lalu dia mengabaikanku.

“Tya, aku minta maaf yah. Aku sudah menyakitimu dengan mengataimu sebagai penghianat. Aku bersalah. Akulah yang tak becus sebagai sahabatmu, aku tak bisa mengerti perasaanmu, aku bahkan tak memikirkan sakitnya hatimu selama ini. Aku yang jahat.” Dia mulai sesegukan diantara tangisnya.

Aku tersenyum. Ku raih dia dalam pelukanku, pertanda akupun ingin berdamai dengannya. Aku tak pernah membencinya. Tangisnya semakin memuncah manakala di dapatinya hatiku tanpa dendam untuknya.

“Sudahlah. Aku tak pernah membencimu. Aku juga mengerti perasaanmu.”
“Maafin aku yahhh…”
“Iya. Maafin aku juga!”

Kali ini ada air yang bening jatuh di pipiku. Aku menangis. Aku lega kini, sahabatku sudah kembali ke pelukanku, dan semestinya memang begitu. :-)

 

13 Responses to “Dia bilang aku penghianat!”

  1. Raffaell Says:

    Ini akibatnya kalo punya teman so close…. hehehehehe, I made that mistake that once, waktu smp….. at that time, i dont wanna make close friends anymore.

  2. luvnufz Says:

    @Raffaell
    wah,berarti semua orang sama donk di mata mas…
    kagak ade yang dianggap sahabat lagi mas?

  3. anakdel Says:

    hnmm…lagi2 perasaan cinta ya..??
    i dont have any idea about it, coz uda lupa tuh..masalah cinta :)
    kali karna uda expert di jomblo kali ya dek,hehehehe.
    tapi tulisanya bagus koq, kenapa gak kirim ke majalah aja, jadi cerpen gitu, pasti keterima.

  4. blank Says:

    My CLS…..
    Buat buku napa?
    aQ beli pun 1, lumayan keren juga klo buat tulisan sist’,
    aQ pujinya cuma untuk postingan ini aja,
    ‘ntar lain x ‘g, heeheheh….

    Emang air matamu bening ‘y ‘d?
    bukannya dulu hijau?
    h.h.h.

  5. luvnufz Says:

    @anak del
    ciee..yang udah expert…hahaha….. :-)
    jangan sedih bang, aq yakin suatu saat akan ada seorang wanita yang sanggup membuat abang merasakan “cinta” itu lagi…

    tulisannya dikirim ke majalah? ahhh, ndak berani aku bang…
    masih tulisan abal-abalnya ini…. ;-)

    @blank
    sister pikir kolor ijo mpe air matapun harus ijo? kekeke.. :-)
    nantilah sist, kalau ada niatqu buat buku, ku kasih pun satu untuk sister,
    tapi SAMPULNYA doank….kwakwkaw….

  6. blank Says:

    ‘g sopan !!!

  7. luvnufz Says:

    @blank
    tuh lah kan…masih untung di kasih sampulnya..
    daripada gak dapat apa-apa sist??
    hehehe…. ;-)

  8. Panglatu Says:

    Bah.. semakin mantafs saja tulisan Itoku ini bah… boleh juga itu diseriusin jadi Penulis Buku atau Novel….
    Lama nggak kesini Ito… habis bertapa… bagaimana khabarnya….

  9. luvnufz Says:

    @panglatu
    itoooo….dari mana sajakahh??
    hehehe…jadi penulis??? hmm..itu emang cita2ku “dulu” to..
    tapi masih belum kepikiran aqu……
    masih pemula soalnya toquu….

  10. kan kemarin aku cakapin kw jo, kemarin yg pas kw tanya itu

    “….” Dia diam, tak menjawab.

    aku ga diam, tapi emang pengen berak pas itu, jadinya aku keburu ngibrit deh ..mbeheee

  11. luvnufz Says:

    @okta
    nyetttt…hahahah…..
    ber*k aja yang di otakmu!!!

  12. putri Says:

    Pu3 jg ngalamin,
    tp gag dgn shabat..
    Pu3 dblg penghianat oleh sepupu pu3 sndr, smp skrg dy msh blum bs maafin pu3


Leave a Reply