Coz I’m SpeCiaL

and I refuse to fall….

Pemeriksaan Status Mental Karyawan March 30, 2009

Filed under: Mai Laif, Mai Deizz — Hasian Cinduth @ 3:12 pm

*beghh…apa kamsutnya judul postingan ini yah?
*lhoo…kenapa?? si zao emang dah gila beneran yahh?
*Pemeriksaan status mental?? Baca dulu ah, siapa tau bisa nebeng ngetes juga…hihihi… :-)

Mungkin itu adalah beberapa pertanyaan yang terlintas saat mbaca judul postingan ini. Aku juga gitu, bukan waktu mbaca judul postingan ini, tapi waktu menerima selembar kertas putih yang tulisan diatasnya berwarna biru yang disodorkan mbak Ndes tadi pagi.

*Heh??? Pemeriksaan status mental karyawan?
*Apa-apaan ini?? Emang dia kira aku dah gila??

Hehehe, tapi tenang sodara-sodara, jangan kabur dulu…ternyata bukan cuma aq doank kok yang dapat, tapi semua karyawan yang masa kontrak-nya akan habis bulan Maret ini.. *Legaaa….

Trussss pemeriksaannya itu gimana?? Yahhh, gak gimana-gimana…Kita cuma disuruh ngejawab 42 pertanyaan yang tertera, tentunya yang sesuai dengan kepribadian kita..

Pertanyaannya susah-susah gak? Enggak!! Bahkan menurutku itu cuma SILLY QUESTIONS!!! Pertanyaan Ecek-ecek!!!

Nih, ku kutip beberapa pertanyaannya yah…
“Apakah saya tidak merasa antusias dalam hal apapun?”
“Apakah saya merasa tidak ada harapan untuk masa depan?”
“Apakah saya merasa takut tanpa alasan yang jelas?”
“Apakah saya merasa sedih dan tertekan?”

Pertanyaan yang sangat mudah bukan?? Iya, mudah karna aku merasa sangat nyaman dengan partner-ku bekerja, aku senang pada atasanku yang baik dan pengertian, aku senang karna aku bisa mengerjakan pekerjaanku dengan baik, dan aku merasa nyaman dengan lingkungan kerjaku.

Tapi, kemudian aku teringat dengan seorang teman yang merasa sangat tertekan dengan pekerjaannya sekarang. Dia stress!!! Aku jadi sadar, mungkin itulah guna pemeriksaan mental seperti ini, supaya ada penanggulangan lanjut untuk orang2 seperti temanku itu…sehingga perusahaan tau kalau dia tidak sesuai dengan pekerjaannya sekarang.

hhmmm…trus hasilnya pemeriksaannya gimana?Ada dueehhh…
*plaakkk!!! dilempar pake laptop!

:-)

 

Oh Em-Ji!!!! March 25, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku — Hasian Cinduth @ 4:22 pm

Mundurkan waktu, Tuhan, lima menit saja! Kembalikan aku ke posisi saat aku masih di jalan tadi, atau biarlah aku di tabrak bajaj saat menyebrang tadi hingga tak perlu bertemu dengannya disini.

Hari ini aku senang sekali, sebab aku baru saja menerima kabar gembira dari seseorang. Dia bilang Kris akan ke Jakarta untuk sebuah urusan kantor. Kris? Oh, seperti apa dia sekarang? Kelihatan semakin dewasakah? Atau masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya, sekitar tujuh tahun yang lalu?

Rasanya tak sabar menunggu tanggal yang telah disebutkan tadi. Aku jadi gelisah dan gugup! Heiii, ada apa ini? Kenapa jantungku juga berdebar-debar? Aku tak berhenti tersenyum, sebentar-sebentar melihat wajahku di cermin sambil bertanya dalam hati, ”Masih cantik kah aku dimatanya? Apakah dia akan mengenali aku nanti?”. Ya ampun, padahal kedatangannya itu masih seminggu lagi. Ohh, sepertinya itu waktu yang terlalu panjang untuk menunggu kedatangan Kris yang sangat ku rindukan.

Sisa hari itu ku lewati dengan konsentrasi yang memudar, tanganku terasa dingin dan gemetaran, mungkin efek detak jantung yang terlalu cepat. Yah, orang yang jatuh cinta akan mengatakan semua hal untuk membenarkan pemikirannya! Apa? Jatuh cinta? Hahaha, aku tertawa keras untuk hasil pemikiranku tadi. Apakah aku jatuh cinta lagi padanya? Wajahku terasa panas, ada semangat berlebih yang menjalar di seluruh tubuhku.

Aku tak kuasa menghalau semua pemikiran tentang dia. Apa yang akan ku katakan padanya nanti saat kami bertemu? Ah, sebaiknya kami tidak membicarakan masa lalu! Biarlah yang lalu menjadi bagian dari kami masing-masing. Entah mengapa, sesaat aku merasakan lagi rasa yang menggelitik itu, seakan ada beratus kupu-kupu yang hinggap diperutku, aku merasakan nikmat. Aku ingin berlama-lama merasakan geli itu, rasa yang telah ku lalui saat pertama kali jatuh cinta padanya. Dan ku pejamkan mataku sambil duduk bersandar di kursi, aku berusaha menghadirkan sosoknya di dalam imajinasiku.

– seminggu kemudian –

Ini hari yang telah dijanjikan. Aku dan dia akan bertemu di sebuah cafe yang terletak di seberang kantorku. Masih jam 10 pagi, dan terlalu dini untuk menemuinya disana. Ku perhatikan lagi penampilanku di cermin, cantik! Ku rapikan kerah kemejaku yang sebenarnya sudah rapi, tapi tetap kelihatan kurang rapi. Ahh, mungkin karna aku akan menemui seseorang yang sangat istimewa. Aku berusaha mengingat-ngingat lagi apa saja yang akan ku tanyakan padanya. Tak sabar rasanya menunggu jam 12 siang.

Akhirnya jam menunjukkan pukul 12.00, aku segera berjalan menuju cafe. Aduh, perasaanku semakin tak menentu. Ada getaran di bagian tubuhku, tapi aku yakin kalau aku tidak sedang bergoyang gergaji sehingga aku bingung itu getaran apa. Ku raba saku celanaku, dan ku dapati handphone ku yang masih bergetar-getar. Oh, ternyata itu penyebabnya. Ku baca sms yang baru saja ku terima, isinya ”Aku sudah sampai. Kamu dimana?”

Aku semakin mempercepat langkahku tanpa membalas sms nya lagi. Dan kini pria itu ada dihadapanku, tersenyum sambil mengulurkan tangannya kanannya. Aku gamang seketika, mulutku terkatup rapat dan mataku tak berkedip memandangnya.

Benarkah dia adalah Kris yang ku kenal dulu? Kris yang ku cintai dan yang ku tunggu selama tujuh tahun? Tapi..tapi…tapi kenapa penampilannya jadi seperti ini? Oh Em-Ji!!! Bisakah aku meminta untuk memundurkan waktu hingga aku tak perlu bertemu dengannya? Mundurkan waktu, Tuhan, lima menit saja! Kembalikan aku ke posisi saat aku masih di jalan tadi, atau biarlah aku di tabrak bajaj saat menyebrang tadi hingga tak perlu bertemu dengannya disini. Tuhhhhaaannnn…Kau dengarkah permintaanku ini?

Aku bagai tersambar petir mendengar ucapannya padaku,

”Heiii, yeii dari mana saja? Lamrettaa bokkk!!! Eke dah laper nich.!!!”

Oh nooooo!!!! Tak mampu lagi aku mencari posisi yang tepat untuk merebahkan diriku, yang ku tau aku pingsan seketika.

————————————————————-

Hahahaha…… ini cuma imajinasi aja yah, tak ada dalam kisah nyata!! Aku terinspirasi dari postingannya mbak Lala yang mengatakan bahwa tidak semua yang kita inginkan jadi kenyataan. Trus geli aja pas bongkar-bongkar postingan bang ogie yang suka make bahasa ”eke”, ”bokkkk”, dll. Sungguh bang, i like your style!!! Makasih buat para motivator… :-)

Oh ya, postingan kali ini ku dedikasikan buat Mai Metal Girls (awok, pempok and piteng, i luv u all…)

:-)

 

Oh no, Thanks!!! March 24, 2009

Filed under: Curhat — Hasian Cinduth @ 7:21 am

Kemaren tuch ada pengalaman yang ‘cukup’ mendebarkan di metro mini 07 (Senen-Semper). Tau gak ada apa? Ada copet tau!!! Tuch copet sialan amat, dah buat kaki ku biram dan bahu kananku terasa ngilu! Ku doakan, semoga tuch copet sialan dimakan kodok!!! (*eh, emang bisa yah? Hahaha…)

Kejadiannya pas pulang dari ITC abis nemanin sister awok belanja. Aku duduk di barisan tengah sambil dengerin MP3. Awalnya sich aman-aman aja, sampe pas di daerah Pelumpang yang saat itu ‘agak’ macet karna ada perbaikan jalan, naiklah seorang pria bertopi merah dari pintu belakang. Kenapa aku tau dia naik? Karna waktu itu aku sedang menoleh ke Belakang. Tapi kok cewek-cewek yang duduk di belakang pada teriak ya??

Aku terkejut melihat penumpang yang duduk di belakang kemudian berlari sambil dorong-dorongan keluar melalui pintu depan. Ekspresi mereka mereka itu ketakutan!! Aku yang gak tau apa-apa yah ikut aja dalam arus dorong mendorong itu, dan ku rasakan kaki kananku terhimpit ke salah satu bangku yang dilewati. Aku gak peduli lagi, aku langsung lari juga mengikuti penumpang yang lain. Pas udah agak jauh, aku baru nanya sama salah seorang penumpang yang tadi lari di sebelahku.

“Mbak..mbak!!! Ada apaan sich??”
“Ada copet tadi mbak!! copet!!” Dia menjawab sambil ngos-ngos-an.
“Di belakang ya mbak?” Aku bertanya lagi.
“Iya. Dia bawa PISAU!!!!”
“oww….”

Ternyata copetnya itu juga dah lari entah kemana, dan kami naik lagi ke dalam metro mini yang sempat kami tinggalkan. Jantungku masih dag-dig-dug gitu pas duduk, dan ku lihat ke kaki kananku, ow..ow..ow…ternyata biram!!! Dasar copet sialeun, dikau sudah membuat kakiku biram!!!

Trus, apa hubungannya dengan judulnya yang Oh, no…Thanks??

Gini ceman-ceman, jadi begitu nyampe di kost-an, ternyata si Ito yang punya kost-an udah siap-siap mau pergi makan malam bareng anak-anaknya, jadi diajak jugalah aku sekalian. Ku pikir kami bakal makan di tempat biasa, yang menjual nasi bebek. Ternyata enggakkk!!! Kami ke restauran cina gitu.

Begitu nyampe, mereka langsung mesan makanan. Karna aku baru pertama kali ke situ, jadi liat-liat daftar menu dulu. Tapi aku kaget-kaget mendengar pesanan mereka.

A :”Aku pesan daging ular yah, satu!!!”
hah?? mataku langsung melotot melihat si pemesan itu!
B :”Aku kodok aja dech. Tapi masak mentega yah!!!”
hah?? lagi-lagi aku terperangah!!

Ohhh noooo, ternyata aku makan sama kanibal!!!!! Bisa donk ditebak kalau aku langsung gak selera, secara ular itu kan binatang yang paling eggghhh…gak tau ahh!!!

Setelah mereka selesai mesan, kemudian giliranku. Tapi aku dah gak selera lagi, jadi cuma pesan air jeruk murni. Tapi pas ditengah-tengah acara makan, mereka semua maksa aku nyobain pesanan mereka..

A : “Ayo cobaaa to, enak kok ini!!!!”
B : “Iya tante, jangan ragu-ragu. Nanti kalau dah nyoba pasti ketagihan dehh…”
Aq : “Oh, no. Thankz!!!”
C : “Hahahah…tantenya malu-malu!!”

*PLAKKK!!!! ngapain juga malu-malu, gak tau yah kalau gue ketakutan?? Hehehe…. Setelah sedikit dipaksa dan dikasih tau kalau sebenarnya itu daging BELUT, bukan ULAR, akhirnya aku mau nyobain… ihhh… tapi cukup sekali ini aja. Gimana rasanya?? Mana gue tau, wong begitu masuk mulut langsung gue telan. Aku sendiri GAK PENGEN TAU RASANYA GIMANA! Hiaaaakkkksss…..

Trus kodoknya gimana? Dimakan juga??? Iya…. dicobain juga, tapi cuma 2 potong aja, soalnya diledekin mulu sich sama 2 anak kecil itu, katanya aku malu-malu… dan kini aku ikutan jadi KANIBAL juga… hihihihi…. :-)

 

Dia bilang aku penghianat! March 17, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku — Hasian Cinduth @ 5:17 pm

“Oh Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang jika sahabatku belum berhenti menyerangku dengan tatapan yang penuh kebencian di matanya?”

Aku tak tau entah sudah berapa lama aku duduk disini, yang pasti sejak matahari masih terasa menyilaukan hingga cahaya itu digantikan oleh bulan. Aku tak melakukan apapun di tempat ini, aku hanya sedang merasa bahwa duniaku sedang goyang sehingga aku perlu mengambil posisi yang ku tau tak akan membuatku celaka. Aku tak berniat kembali ke kamarku, sebab aku tak ingin bertemu dengan seseorang yang sudah membuatku terduduk tak berdaya disini, seseorang yang juga telah melukai perasaanku dengan perkataannya siang tadi.

Apakah aku bersalah? Aku hanya seorang manusia biasa yang juga mendapat berkat dari Tuhan untuk merasakan cinta. Aku tidak ingin bersikap naïf atau munafik, apalagi membohongi hati nuraniku yang mengatakan bahwa akupun berharap dicintai. Aku hanya sedang menjalankan takdirku, dengan caraku sendiri tentunya. Tapi apa yang terjadi siang ini membuat aku tak sanggup menahan amarah di dalam hatiku, bagaimanapun tak selayaknya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Siang tadi ku dapati sahabatku sedang duduk di depan meja tulis yang ada di kamarku. Aku tak menganggap itu sebuah kejutan, sebab memang dia sudah biasa keluar masuk kamarku tanpa pernah ku protes, karna dia sahabatku dan aku percaya padanya. Tapi kali ini wajahnya terlihat muram, aku yang baru saja datang jadi terheran-heran.

“Hei Wit, dah lama disini?” Aku berusaha menyapanya wajar.
“….” Dia diam, tak menjawab.
“Kenapa? Lagi sakit gigi lagi yah?” Aku berusaha menebak.
“Enggak!” Ohh, akhirnya dia bersuara juga.
“Trus?”
“Aku mau nanya sesuatu. Tapi kau harus jawab dengan jujur!”
“Hmm.. ku pertimbangkan! Emang mau nanya apa?”
“Kau suka ya sama Egi?” Dia bertanya sambil menatapku tajam.

Aku terperanjat mendengar pertanyaannya. Hatiku gentar melihat kemarahan yang terpancar dari matanya. Dan dia sukses membuaku tak sanggup berkata-kata.

“Jawab! Kau suka kan sama Egi?” Dia mengulang pertanyaannya lagi.
“Kau….”
“Sudah, tak perlu mengelak lagi. Aku sudah tau semuanya!” Dia tak memberiku kesempatan untuk berbicara.
“Aku gak nyangka kau setega itu! Kau jahat!” Dia semakin meninggikan suaranya.
“Kau membaca diary-ku?”
”Iya. Aku sudah baca semua isinya! Ku pikir kau sahabat terbaikku, aku selalu cerita semuanya sama mu, tapi nyatanya justru kau yang menghianati aku. Kau jelas-jelas tau kalau aku suka Egi, tapi kau malah suka juga sama dia!”
”Menghianati?”
“Iya. Kau penghianat! Aku tak mau lagi menjadi temanmu!”

Wajahku memerah mendengar pernyataannya. Dia bilang aku penghianat! Aku penghianat! Tidak dengarkah kau? Dia bilang aku penghianat! Setelah itu, dia berlalu dari hadapanku dengan amarah yang menggebu-gebu di dalam hatinya.

Aku terduduk lemas di sisi tempat tidurku dan memandang ke arah laci meja yang terbuka lebar. Mataku terasa panas dan aku yakin sebentar lagi akan ada air mata yang mengucur deras. Apakah aku bersalah? Apakah aku seorang penghianat? Aku tak pernah berniat menyakiti hatinya, bahkan terpikirpun tidak!

Aku memang mencintai Egi, sudah lama. Tapi sejak ku tau kalau sahabatku juga menyukainya, aku mundur teratur. Ku tahan semua asmara yang menggebu di dalam hatiku, demi sahabatku. Ku urungkan niatku untuk mendekatinya lebih jauh lagi karna aku ingin sahabatku bahagia, bahagia bersama dengan orang dicintainya. Meski hatiku akan terasa sangat sakit, akan ku tahan semampuku. Ku korbankan perasaanku demi sahabatku, tapi sekarang dia mengataiku sebagai penghianat! Salahkah aku atas perasaanku ini?

Aku masih belum bisa melupakan tatapan matanya yang penuh dengan kebencian. Ah sudahlah, aku tak bisa seperti ini terus, aku harus menjelaskan semuanya padanya Sekalipun dia akan tetap memusuhiku, aku tak peduli. Setidaknya aku sudah memberikan pembelaan terhadap diriku sendiri. Ku langkahkan kaki dengan gontai, aku benar-benar tak bersemangat lagi.

Di tangga, aku berpapasan dengannya. Aku terkesiap, tak siap menghadapi kenyataan berjumpa dengannya secepat itu. Aku memandang ke arahnya, dia memalingkan wajah. Ku urungkan niatku untuk menjelaskannya sekarang, mungkin bukan waktu yang tepat.

Dua hari berlalu, dan kami masih saling melancarkan aksi diam. Oh Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa hidup tenang jika sahabatku belum berhenti menyerangku dengan tatapan yang penuh kebencian di matanya. Aku harus menyelesaikan masalah ini,pikirku. Maka dengan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat, ku beranikan diri mengetuk pintu kamarnya yang berada tepat di sebelah kamarku.

Tak ada sahutan dari dalam, maka ku buka saja pintu kamarnya. Dia ada di dalam sedang duduk di depan meja tulisnya. Melihat kedatanganku, dia langsung beringsut dan berbaring di kasurnya. Tak lupa di tangkupkannya sebuah bantal ke wajahnya, seolah mengisyarakanku bahwa dia tak ingin melihat wajahku.

“Wit…” Aku berujar pelan kemudian mengambil napas panjang.
“….” Dia tak bergeming
“Aku mau ngejelasin semuanya. Aku tau kau marah, dan mungkin tak ingin lagi berteman denganku. Aku akan mengerti keputusanmu itu, tapi aku ingin kau dengar penjelasanku.”

Hening. Dia masih tetap diam, tak bersuara sama sekali. Kali ini dia menelungkupkan badannya dan meletakkan bantal itu di atas kepalanya. Dia benar-benar tak menginginkan penjelasanku. Tapi aku tak kan menyerah.

“Wit, aku akui, aku memang suka sama Egi. Itu sudah lama. Aku tak tau apakah aku bersalah atas perasaanku itu. Tapi wit, kau harus tau, aku tak melakukan apapaun padanya atas dasar perasaan sukaku. Aku tau kau juga menyukainya, makanya aku selalu berusaha menahan perasaanku sendiri demi perasaan sukamu itu. Apapun yang kau minta, yang berhubungan dengan Egi, aku selalu melakukannya. Saat kau titipkan salam mu untuknya, aku selalu menyampaikannya dengan ikhlas. Tapi bisakah kau bayangkan bagaimana sakitnya hatiku saat menyampaikan itu? Kau selalu minta ku temani untuk menjumpainya, aku tak pernah menolak. Aku pun ikhlas, wit. Tapi taukah kau sakitnya hatiku saat ku lihat orang yang ku cintai sibuk berceloteh dengan wanita lain dihadapanku, sekalipun wanita itu adalah sahabatku sendiri. Aku selalu tersenyum saat mendengar kisahmu dengannya yang kau ceritakan dengan begitu semangatnya, padahal hatiku kadang menangis, tapi aku ikhlas wit. Bisakah kau rasakan itu? Itu semua ku lakukan untukmu, karna aku sayang samamu wit, aku ingin kau bahagia. Aku tak peduli pada keadaan hatiku yang mungkin sudah berantakan, demi kebahagiaanku aku benar-benar tak peduli. Sekarang kau bilang aku hanya seorang penghianat, apakah aku sehina itu? ”.

Aku diam sesaat.

“Wit, jawablah aku. Apakah aku sehina itu? Apakah di matamu aku hanya seorang penghianat?”
“…”

Dia benar-benar tak ingin bicara denganku. Dia tak menjawab, bahkan bergerak pun tidak. Tapi itu tak masalah, setidaknya sudah ku katakan apa yang ingin ku katakan padanya. Hatiku lega. Aku bergerak perlahan dari kamarnya, ku tinggalkan dia dalam kebisuannya.

Beberapa hari kemudian.

“Tya, Ada yang manggil tuch di bawah.”
“Siapa?”
“Kak Retha.”
“Oke..oke..”

Aku segera turun untuk menjumpai seorang kakak yang sudah ku anggap layaknya kakak kandungku sendiri. Tapi selain dia, ada seseorang lagi yang sudah seminggu ini tak mau bertegur sapa denganku. Dia Wita, sahabatku. Wita pun cukup dekat dengan Kak Retha, jadi aku tak perlu heran mengapa dia ada disitu juga.

“Hai kak. Pa kabar? Tumben nich ke sini?” Aku menyapanya ramah kemudian mendaratkan sebuah ciuman di pipi kanannya.
“Enggak. Cuma pengen ketemu kalian berdua aja. Bolehkan?”, balasnya.
“Ya bolehlah. Masa gak boleh? ” Ku sahuti dengan sebuah senyuman di wajahku.
“Kakak dengar kalian lagi berantam yah? Ada apa?”
“Kata siapa?” Aku langsung menjawab.
“Ada dech. Jawab aja. Ada yang mau cerita ma kakak gak?”

Ku pandang sekilas ke arah Wita. Dia diam saja.

“Ayo donk de, cerita ma kakak. Kenapa kalian berantam?”
“Gak ada kok kak yang lagi berantam!” jawabku.
“Udah dech, gak usah ditutup-tutupi lagi.” Kak Retha masih berusaha menyelidiki.
“Ah…gossip tuh. Emang kita lagi berantam, Wit? Enggak kan?” Aku berbicara pada Wita, yang kemudian melirik ke arahku.
“Enggak kok kak. Kami gak berantam. Beneran!” Kali ini dia buka mulut.
“Oh, kalau gitu kakak ingin lihat kalian duduk bersisian. Trus berbicara seperti biasanya.” Kak Retha mencoba menguji kebenaran ucapan kami.

Aku langsung berdiri dan kemudian duduk di samping Wita. Aku tertawa dan berkata “ihhh..udah liat kan? Kami gak lagi berantam kok. Kakak percaya dehhh.”
“Oke..oke. Kakak percaya. Syukurlah kalau memang tak ada apa-apa. Kakak hanya ingin memastikan kalau semuanya baik-baik saja.”

Setengah jam pun berlalu, dan aku berusaha mewajarkan diriku sewajar-wajarnya, tertawa dan bercanda seperti biasa. Tak lama kemudian kak Retha pun pulang. Sekarang tinggal aku dan Wita. Aku terdiam, sandiwarapun tak perlu dilanjutkan lagi.

“Aku naik duluan ya, Wit.”
“….” Dia tak menjawab.

Aku berlalu dari hadapannya dan menuju kamarku yang ada di lantai dua.

“Tya….”. Aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang ketika aku sedang duduk melamun di kamar. Aku sangat mengenali suara itu. Itu suara Wita.
“Masuk aja. Gak dikunci kok” jawabku pelan.

Ku lihat matanya berkaca-kaca. Aku tak tau kenapa, padahal baru beberapa menit yang lalu dia mengabaikanku.

“Tya, aku minta maaf yah. Aku sudah menyakitimu dengan mengataimu sebagai penghianat. Aku bersalah. Akulah yang tak becus sebagai sahabatmu, aku tak bisa mengerti perasaanmu, aku bahkan tak memikirkan sakitnya hatimu selama ini. Aku yang jahat.” Dia mulai sesegukan diantara tangisnya.

Aku tersenyum. Ku raih dia dalam pelukanku, pertanda akupun ingin berdamai dengannya. Aku tak pernah membencinya. Tangisnya semakin memuncah manakala di dapatinya hatiku tanpa dendam untuknya.

“Sudahlah. Aku tak pernah membencimu. Aku juga mengerti perasaanmu.”
“Maafin aku yahhh…”
“Iya. Maafin aku juga!”

Kali ini ada air yang bening jatuh di pipiku. Aku menangis. Aku lega kini, sahabatku sudah kembali ke pelukanku, dan semestinya memang begitu. :-)

 

Cintakah Aku Padanya? March 13, 2009

Filed under: Curhat, Mai Laif, Mai Deizz, Sorry, i luv yu... — Hasian Cinduth @ 8:57 am

Aku memeluk pinggangnya dengan sangat erat, seolah ingin menekan rasa sakit dihatiku sepeninggalan Kak Beni. Air mataku mengalir deras membasahi bajunya. Aku gak perduli, aku hanya ingin menangis saat itu.

Kali ini aku pengen cerita tentang seseorang dari masa lalu, sekitar 6 tahun yang lalu lah. Waktu itu aku masih kelas SATU SMA (catet ya, kelas satu). Seseorang itu, sebut saja namanya Beni (si Mr.XXX), pernah membuat aku kleper-kleper gak nentu. Hahaha, mungkin kedengaran lebai, tapi itulah kenyataannya. Beni itu kakak kelasku, dia anak kelas tiga. Sepengetahuanku, dia punya banyak fans dari kelas satu, dua dan tiga, tapi no problem buatku, karna aku tak berniat bersaing dengan mereka ;-) .

Awalnya aku dikasih tau sama salah satu temanku, katanya ada cowok cakep, anak kelas tiga, pokoknya mantebh lah. Aku benar-benar penasaran, apalagi katanya cowok itu pintar (wow, gue banget!! ). Okelah, pas hari H-nya aku dikenalin ma Kak Beni (cowok pun dipanggil kakak waktu disekolahan dulu). Kesan pertama sich biasa aja, selanjutnya terserah Anda! Lho?? Kok kayak iklan parfum gitu yah?? Hehehe.. (*plakkk!!! Serius donk ah!! )

Oke..oke. Nah setelah itu masih ada pertemuan selanjutnya, yang aku sendiri gak sadari kalau semakin hari kami semakin dekat, kedoknya kakak-adek gitu lah. Karna memang yang terlihat biasa saja, jadi gak ada yang curiga, tapi di belakang itu ada banyak hal luar biasa menurutku. Namanya juga lagi kesengsem, di tabok juga dianggap sebagai tanda cinta… Hahaha.. Eih, tunggu dulu!!! Aku tadi bilang apa?? Cinta?? (*ntar yah, kita pending dulu penjelasan yang ini.)

Dia benar-benar menjadi sosok yang aku kagumi. Dia ngangenin, pokoknya kalau gak ketemu dia sehari aja, rasanya ada yang kurang. (*Lebai luuu..) Tapi lama-lama aku sadar, ada yang gak biasa di antara aku dan dia, meski itu hanya perasaanku saja. Biarin dech, yang penting aku senang. ;-)

Aku kasih tau ‘dikit’ yah tentang apa yang terjadi.

Ketemu di toko, abis pulang gereja.

“eh..ada kak Beni. Lagi beli apa kak?” (*sambil senyum-senyum gak jelas)
“Ada dech. ;-) ”, jawabnya sambil senyum juga (*anjrit, manis banget senyumannya…kalah dech gue! sumpah! )
“Ohh, jadi ada barang baru ya yang namanya “ada dech”? ”
“Hahaha, enggaklah adek kecil (* K’Moris dah tau belum kenapa aku kayak orang kesurupan kalau kakak bilang aku “adek kecil? Mengingatkanku pada seseorang. Hehehe…)”.
“Trus?”
“Beli agar-agar nich. Ntar siang pengen masak agar-agar.”
“Owwhh..bisa masak juga? Masa’ sich?”
“Bisalah. Emang kau?? Bweekkk…”
“Ichhh..gak usah segitunya kali. Masakin buatku juga ya kak… ;-) ”. Aku mencoba masang tampang memelas.
“Gak mau. Masak aja sendiri”
“Pelit!!!” Dan gue sebal setengah mati sama dia saat itu.

Tapi malamnya, apa yang terjadi?? Treng..treng..treng.!!! Di meja belajarku ada satu box makanan yang isinya agar-agar dan satu buah memo, isinya “Selamat menikmati… ;-) ” Hahaha…Aku loncat-loncat di kamar, gak peduli diliatin dan disenyumin ma teman-teman sekamarku. Hehehe… ;-) (Oh ya, lupa ngasih tau kalau waktu kelas satu dulu aku tinggal di asrama). Jadi makin kesengsem nich… ;-)

Kejadian lainnya

Pas makan siang (jadi waktu itu anak kelas tiga udah makan jam 12, kl kelas satu dan dua makan jam satu siang), aku ngeliat pisang yang ada di omprengku (tempat makan) kena coret-coret. Aku sempat bingung, iseng banget sich yang nyoretin pisang?? Tapi semakin ku perhatiin, itu bukan sekedar coretan, tapi sebuah pesan. Isinya “MET MA’EM CHIANK. ;-) ” Hahaahaha, itu dari K’Beni, soalnya cuma dia yang selalu membuat icon mengerling ( ;-) ) di setiap akhir pesannya. Aku ketawa mbacanya, trus di ledekin sama kakak kelas dua yang juga satu meja makanku “Ciehhh, kayaknya ada yang punya secret admirer nich. Dari siapa sich dek??” Makan siang kali itu benar-benar gak ku nikmati, jantungku berdebar-debar, yang ku pikirkan hanya si pembuat pesan itu.

Kemudian

“Eh dek, besok ikutan acara paskah gak?”
“Gak tau kak. Emang kenapa?”
“Emang ada rencana gak datang yah? Seru tau acaranya, ada acara nyari telur paskah juga lho. Emang gak mau??”
“Ah, kalau telur sich bisa dibeli. Tinggal direbus kan? Hehehe..”
“Bukan masalah harganya lho, tapi proses mencarinya. Eh tau gak, biasanya kan telur paskah yang kita dapat itu bakal dikasih sama orang yang kita sayangi lho. “
“Iya?? Masa sich? Baru dengar!”
“Iya, makanya besok datang, biar dapat telur paskah.”

Besoknya aku gak ikutan. Aku dan beberapa teman yang muslim hanya melihat-lihat proses pencarian telur itu dari lantai dua asrama putri. Otomatis aku gak dapat telur lah, tapi akhirnya aku dikasih juga ma teman sekamarku yang dapat banyak telur waktu itu. Sampai malam ku tunggu, aku berharap aku adalah orang yang disayanginya, yang akan diberikan telur paskah olehnya. Tapi mungkin hanya tinggal asa belaka…. Jam 10 malam, aku bersiap untuk tidur, sampe akhirnya ku dengar seorang cowok memanggil-manggil namaku dari bawah.

“Joice, turun bentar donk.”
“Ada apa??” Aku bingung, soalnya yang manggil itu teman seangkatanku yang kurang akrab denganku.
“Ada titipan nich untukmu.”
“Oh, entar yah.”

Sampe di bawah, aku dikasih sebuah bungkusan plastik berwarna hitam.

“Dari siapa?”
“Liat aja sendiri, gak boleh dikasih tau katanya dari siapa”
“Okelah, makasih ya”
“Same-same.”

Hahahaha…ku dapati sebuah box makanan yang isinya langsat dan sebutir telur paskah, berwarna pink, tak lupa sebuah pesan “Selamat hari Paskah… ;-) ”. Aku berjalan ke arah balkon, melihat ke arah kamar temanku yang tadi ngasih titipan, pintunya masih terbuka. Disana ku lihat sosok seseorang dengan kaus putih. Aku melambai, berharap dia melihat. Yup, usahaku tak sia-sia. Setengah berteriak, aku bilang “Makasih ya, kak.” Hmmm, dia senyum sambil ngucapin “Met bobo yah.”

Telur itu ku genggam lama, sampai kawanku bilang “Di air kerasin aja jo, biar awet.” Hehehe…sirik aja loe!! Kau kan gak tau apa arti sebutir telur itu untukku. ;-)

Di waktu lain, abis ibadah malam di kantin asrama.

“Lho, apel siapa nich?” Aku bingung melihat ada sebuah apel hijau di omprengku.
Kakak kelasku yang satu meja makan denganku cuma senyum-senyum aja.
“Apaan sich kak, kok malah senyum?”
“Ih, joice galak deh. Duduk aja dulu, sini.”
“Ihh kakak, ini apel siapa? Ntar dikirain nyolong lagi.”
“Hehehe..enggak. Itu dari si Beni, liat aja ada memonya tuch di bawah apelnya.”
“Ohh.. kirain.. ;-)
“Cieeehhhh…” Kakak-kakak kelasku serempak ngeledikin aku.
Hmm…aku semakin gila… (*Lho, kok?? )

Suatu malam saat nungguin Bang EdoQu yang lagi pacaran.

“Lho, kok belum tidur?” Aku terkejut mendengar suara seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangku. Saat itu aku lagi menekan tuts-tuts piano yang ada di lobi asrama.
“Iya kak. Lagi nungguin Kak Edo nich.”
“Hah? Mau ngapain??”
“Gak tau kak. Katanya ada yang mau dibilang kakak itu sama aku.”
“Udah, gak usah ditungguin. Tau sendiri kalau abangmu itu dah pacaran, gak akan ingatlah samamu.”
“Iya sich.”
“Ya udah, naik sana. Ntar aku yang bilang sama Edo kalau kau ku suruh naik. Ga papa.”
“Benaran? Ya udah dech. Aku naik aja.”
“Ya udah. Met bobo yah, moga mimpi indah.”

Dia bilang gitu sambil megang hidungku gemes. Trus dia pergi. Ya ampuuunnn…. Jantungku langsung amburadul detaknya, iramanya benar-benar gak banget dech. Aku megangin idungku terus sambil lari-lari di tangga. Teman-teman sekamarku bingung ngeliat aku.

“Kenapa kau jo? Kok megang-megang idung?”
“Gak papa kok.”
“Kau mimisan?”
“Enggak!”

Karna penasaran, mereka ndekatin aku sambil ngeliatin idungku yang terus ku tutupi. Tapi aku cengengesan dan kemudian terbahak-bahak. “Aku gak papa kok. Suerrr, disambar cowok cakep!”. Saking geramnya, temanqu ngelempar aku pake bantal. Hehehe.. sorry pren, kalian gak tau sich gimana rasanya waktu itu. ;-)

Disaat-saat terakhir…

“Cieee…rajin amat nich kayaknya!” Dia datang ntah dari mana, trus duduk tepat disampingku yang saat itu sedang ngerjain tugas Geografi.
“Iya kak, PR nich. Lusa mau dikumpul.”
“Kan masih lusa!”
“Yah, ga papalah, siapa tau besok gak sempat ngerjain.”
“Hmm…Oh ya, mau minta warisan apa nich dari aku?” (*warisan itu kenang-kenangan yang diberikan oleh kakak kelas yang dah mau tamat)
“Gak ada.” Ku jawab dengan enteng tanpa melihat ke arahnya.
“Serius gak mau apa-apa?”
“Emang boleh minta apa aja sama kakak?”
“Boleh”
Kalau gitu..aku minta hati kakak aja. Boleh gak?” (*tentu saja aku gak berani bilang kek gitu…)
“Gak jadi dech, aku gak minta apa-apa.”

Trus ada temanku, cewek, yang datang sambil nimbrung disitu.

“Kak Ben, aku minta warisan donk dari kakak.”
“Hah?? Warisan apaan dek?? ”
“Yang masih ada, apaan kak?”
“Tinggal celana dalam. Mau?? Hahaha…” Dia memang tukang bercanda juga.
“Boleh dech kak, tapi ditengahnya tempelin foto kakak yah. Hahah. ”
“Gak ah. Emang kau mau apa? Mungkin baju sekolah dech yang ada.”
Kak…aku boleh minta baju kelas kakak gak?”
Whats??? Baju kelas?? Duh, kami sekelas dah janji gak bakal nge-warisin baju kelas itu dek, kalaupun diwarisin mungkin itu buat pacar-nya lah…atau setidaknya orang sangat special. Soalnya kalau reunian lagi, kami mau make baju kelas itu.”
“Ohh..gitu ya kak? Gapapa dech. Baju sekolah juga jadi..Ku minta besok yah kak. Makasih luan. Eh jo, serius amat sich neng??”
“Iya say, lagi konsen nich…”, jawabku yang dari tadi emang diam aja.

Setelah itu temanku itu pergi.

“Tuh kan, temanmu aja yang gak begitu dekat sama aku berani minta warisan. Masa kau gak mau warisan dariku?”
“Lho, dialah itu. Masa’ dipaksa?”
“Heheh…enggak sich. Asal jangan nyesal aja”
“Enggak kok. Gak bakalan nyesal lah… Biasa aja tuch.”

Aku bersikeras gak mau minta apapun darinya, gak tau kenapa. Mungkin karna aku gak mau terlalu berharap juga nantinya.

Sejam sebelum dia meninggalkan asrama, mungkin untuk terakhir kalinya juga aku bisa ngeliat dia

“Jo, kakakmu dah mau pergi tuch. Gak mau nganterin?”
“Gak ah.”
“Kenapa? Masa kau gak mau nyalam dia? Mungkin kau gak bakal ketemu dia lagi dalam waktu dekat.”
“Nggak. Aku sedih…takut nangis nanti di depannya.”
“Ya ampun, wajar aja kali kalau kau nangis.”
“Ku temanin kau ke bawah yok…Aku sekalian nganterin kakakku juga.”
“Enggak lah. Makasih.”
“Ya ampunnn, tolonglah kali ini kau jangan keras kepala. Plisss….”

Kemudian aku ditariknya ke bawah.

“Sudah, jumpain sana.”
“Aku disini aja. Jumpainlah kakakmu sana, ntar dia keburu pergi.”
“Ya udah. Aku pergi ya. Awas kalau gak kau jumpain dia.”
“Iya”

Di teras asrama, ku lihat dia ramai dikelilingi teman-teman dan kakak kelasku yang lain. Aku hanya duduk di tangga lobi, memperhatikan dia dari jauh. Benarkah dia gak akan pernah ku lihat lagi? Inikah akhir dari semua ceritaku dengannya? Aku benar-benar galau. Aku terus memandanginya sampe akhirnya dia tersadar dan memanggil aku.

“Sini!!” Aku berjalan ke arahnya.
“Kok malah bengong sich disana?? Kita foto-foto dulu yok.”

Aku cuma tersenyum, mencoba menutupi kegalauan di hatiku. Dia merangkulku malam itu, untuk pertama kalinya jarak kami terasa sangat dekat. Sesudah foto-foto, dia kembali sibuk menyapa dan meladeni orang-orang yang mengucapkan selamat jalan dan semoga dia sukses di perkuliahannya nanti.

Dan mobil jemputannya pun datang. Semua tas dan barang bawaannya pun dimasukin ke bagasi. Dia berjalan ke arah pintu samping mobil. Aku mengikutinya dari belakang. Sebelum dia naik, dia berbalik ke arahku. Di salamnya tanganku yang sudah terasa dingin, di acak-acaknya rambutku dengan tangan yang satunya lagi sambil berucap, “Baik-baik disini yah. Jangan nakal.” (*buseeettt, berasa lagu pasto banget!). Aku cuma diam, sambil manggut-manggut. Trus di rangkulnya aku sekali lagi, dihadapan orang-orang ramai itu. Aku pengen nangis, tapi ku tahan air mataku. Dia naik ke dalam mobil. Aku sudah siap-siap pengen nangis, tapi dia turun lagi.

“Eh, ada yang ketinggalan… Ini untukmu, jaga baik-baik yah. Ini amanah.”

Lalu dia menyodorkan sesuatu ke arahku, sesuatu itu berwarna hijau dan merupakan benda yang sangat diingin-inginkan orang banyak darinya. Itu adalah baju kelas yang katanya hanya akan diberikan pada seseorang yang sangat special untuknya. Aku terdiam, orang-orang memandang aku dengan tatapan heran. Aku gak peduli. Setelah itu dia naik ke mobil lagi, dan kali ini mobilnya melaju perlahan, belok menuju gerbang keluar. Berakhir sudah semuanya, kataku dalam hati.

Aku setengah berlari ke arah lobi ketika ku dapati Bang Edoku sudah berdiri disana, aku gak tau sudah berapa lama. Dia membentangkan kedua tangannya ke arahku. Aku segera menghambur kepelukannya. Aku memeluk pinggangnya dengan sangat erat, seolah ingin menekan rasa sakit dihatiku sepeninggalan Kak Beni. Air mataku mengalir deras, membasahi bajunya. Aku gak perduli, aku hanya ingin menangis saat itu.

“Jadi dia yah orangnya to?” tanyanya.
“…” Aku hanya mengangguk, tapi tangisku belum juga berhenti dan pelukanku belum ku lepas.
“Maafin aku yah to. Aku kurang perhatian sama ito, sampe-sampe aku gak tau kalau ternyata dia orang yang ito sukai. Kenapa gak bilang dari dulu to?”
“…” Aku menggeleng.
“Kenapa? Setidaknya aku kan bisa bantu ito.”
“…” Aku menggeleng lagi. Kemudian aku berusaha untuk bicara
“Gak perlu to”. Tapi suaraku parau, aku masih terisak.
“Ito gak pengen jadi pacarnya?”
“Enggak. Begini aja udah cukup kok.”
“Adekku sayanggg…jangan sedih lagi ya. Aku yakin kok kalau dia juga sayang sama ito. Buktinya baju ini!! Kami sekelas sudah janji gak akan mewariskan ini, tapi ternyata dia ingkar demi ito. Bahkan aku sendiri gak bisa ngasih kek gini sama ito.” Abangku itu terus bicara sambil merapikan baju yang ku genggam dengan sangat erat itu.

Aku masih menangis untuk beberapa saat. Setelah sadar wajah dan mataku sudah sangat merah, aku pun berhenti menangis. Abangku membantuku menghapus air mataku dan merapikan rambutku juga dengan jari-jari tangannya. Aku masih sedih.. :-(

Itulah kisah cinta anak SMA yang gak kesampean, tapi masih membekas sampai saat ini. Aku gak pernah bilang sama dia tentang perasaan ini, dan aku pun tak pernah tau apa yang dirasakannya untukku.

:-)

cinta gak harus memiliki kan??? ;-) Aku sudah sangat senang bisa menjadi bagian dari kisah SMA-nya, dan aku gak berani berharap “lebih” darinya…

 

Cerita SMA March 12, 2009

Filed under: Curhat — Hasian Cinduth @ 12:41 pm

Belum sempat dia melanjutkan pertanyaannya, aku langsung beraksi, pengen meloncat dari kursi, tapi keburu di tangkap ma yang lain. Sial!!!

Aku dan enam sahabatku yang lain memang benar-benar gank gak penting. Tapi aku sangat menikmati moment-moment yang dilewati bersama mereka. Kami bertujuh memiliki selera yang berbeda, baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, termasuk dalam hal cowok, tak ada yang sama, semuanya berbeda. Tapi itulah indahnya perbedaan, dan paling terasa kalau lagi pesan makanan, jadi bisa nyobain tujuh jenis makanan sekaligus, keroyokan gitu dech.

Kalau lagi gak ada kerjaan, biasanya kami nongkrong-nongkrong gak jelas di sebuah cafe yang ada di pusat kota, tapi kali ini berbeda. Kami lebih memilih ngumpet di rumah salah seorang sahabatku, Yuni. Ada yang nonton, ada yang ngegosip, ada yang masak indomie, ada yang kejar-kejaran dan ada juga yang tidur (yang ini pastilah diriku ;-) ), semuanya ngambil kegiatan masing-masing.

Pas udah bosen, semuanya duduk melingkar di meja makan. Bukan mau makan lho, tapi mau main game. Aku sich lupa apa nama permainannya, jujur atau apa gitu dech. Setiap orang yang kena ‘tunjuk’, harus menjawab pertanyaan yang dikasih, kalau gak mau jawab, dia harus rela dihukum. Aku paling ogah main game kayak ginian, soalnya bakal jadi kesempatan emas buat ngorek-ngorek rahasia yang pengen kita simpan seumur hidup.

“Aku gak ikutan yah..”, ujarku.
“Lho, jangan gitulah jo… Ikutlah, nanti gak seru…”
“Iya..masa’ gak ikut? Kalau gitu kau gak boleh makan!”
”Gak usah, rumahku di ujung itu kok, tinggal pulang kan kalau mau makan.”, jawabku
“Yang gak ikut, pulannggg!!!!!”
“Hohoho, dengan senang hati”, kataku sambil berjalan ke arah pintu
“Aihh, janganlah jo..gak seru kalau kau gak ikut.”
“Ahh, aku sudah mencium pertanyaan-pertanyaan aneh nich dari kalian semua”
“Hahahah..gak kok jo, serius. Cuma pertanyaan biasa.”
“Oke..oke..aku ikut, tapi boleh gak dijawab kan kalau gak mau?”
“Bisa, paling dihukum.” Jawab salah seorang temanku sambil senyum-senyum najong.
“Aihh…mai feelin’ is not delicious.”

Akhirnya aku ditarik dan dipaksa duduk di tengah-tengah mereka. Oke, sekarang permainan dimulai. Awalnya emang pertanyaan-pertanyaan biasa yang mereka lontarkan. Tapi yang kasihan temanku si Yuni itu, dia kena melulu..mungkin itu pertanyaan kesekian untuknya, dan sudah semakin menjadi-jadi kegilaan teman-temanku yang lain.

“Hahaha…Yuni lagi! Kasihan amat sich, neng?”
“Iya nich..ah, joice curang! Kok dia belum kena-kena juga sich?”
“Lho, kok nyalahin aku? Yang muter siapa?? Bukan aku kan?”
“Yuni dikasih pertanyaan apa nich?”

Ku perhatikan wajah temanku itu sudah mulai pucat, karna dia tau kalau dia gak bakal selamat. Aku merasa geli di dalam hati, soalnya dialah pencetus ide main game ini.

“Eh yun, jawab nich ya. Tapi yang jujur.”
“Iya..apaan??”, jawab Yuni dengan perasaan deg-deg ser.
“Dah pernah belum ciuman ma cowokmu?”
“Hahahaahaha…” sontak kami ngakak mendengar pertanyaan itu.

Ku perhatikan lagi temanku itu, dia merasa malu sampe-sampe dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku tersenyum, menunggu jawabannya.

“Jawab weiii….jangan tidur!!”
“Aihh, boleh kan gak dijawab?”, kata Yuni.
“Boleh. Tapi kau dihukum.”
“Terserah. Apa hukumannya?”
Kau harus nyanyi sambil nari lagu India mulai dari bawah sampe ke atas sana. Pokoknya mesti kayak di pilem-pilem ntu.”, Kata Rein sambil menunjuk ke arah tangga menuju lantai dua.
“Hah???”
“Iya, mau gak?”
“Ya udah dech, daripada di suruh menjawab itu.”
“Emang kenapa yun kau gak mau jawab?”, selidikku.
“Hehehe..ga papa jo!”
“Jangan-jangan…hahaha…cie, yuni…dah pernah ternyata ya??”
“Hahahaha…” kami kembali tertawa, gaduh.

Setelah dikompor-kompori, si Yuni akhirnya mengalah dan bersedia menjawab pertanyaan paling dahsyat itu (ya iyalah, ini kan cerita anak SMA yang masih lugu dan polos ). Hehehe, akhirnya dia gak punya muka lagi, soalnya di encengin terus ma kita-kita, “cieehhh…yang udah ehm-ehm” atau “aihhh, rasanya gimana yun?”. Dasar edan! Aku sendiri suka senyum-senyum ngingat tingkah teman-temanku saat itu. Setelah itu, si Yuni minta permainannya di udahin aja.

“Udahanlah mainnya ya..nanti makin gawat pertanyaannya.”
“Hahaha..cie, yang rahasianya udah diketahui public”
“Bukan..bukan karna itu.”
“Jadi karna apa?”
“Emang masih mau lanjut? Ayo kalau gitu, aku mau balas dendam nich”
“Ah udahlah mainnya wei, cemnya gak enak perasaanku“, kataku
“Eh, tapi dari tadi kan ada SATU MAHLUK yang gak pernah kena, gak adil kan?”
“Iya, si Joice nich. Gimana kalau…”

Belum sempat dia melanjutkan pertanyaannya, aku langsung beraksi, pengen meloncat dari kursi, tapi keburu di tangkap ma yang lain. Sial!!!

“Oke..oke! Mau kalian apa?” tanyaku pasrah
“Jawab dengan jujur! Sejujur-jujurnya!!”, kata Yuni
“Ah..gak mau! Anggap aja aku lagi beruntung, jadi gak kena dari tadi”, elakku
“Enak aja kowe! Dirimu juga harus kena, cinta..”
“Hehehe, ya udah, pertanyaan apa? Dasar kampr*t lah kalian!!!”
“Oke..oke!!! Gantianlah nanyain-nya ya, aku duluan!”, si Wita bersemangat!
“Gantian pala’ mu?? CUKUP SATU pertanyaan!” Aku protes.
Ya udah, satu pun jadi. Aku dari dulu penasaran kali, mpe hampir tiga tahun kita temanan, masa kau gak mau ngasih tau siapa nama cowok yang kau sukai?”
“Hahaha..pertanyaan di batalkan.”, jawabku, yang kemudian disambut beriringan dengan teriakan teman-temanku, “ahhh…jawablah jo!!”
“Ah, untuk apa sich kalian tau itu?”
“Penasaran aja jo. Soalnya kau gak pernah mau cerita sama kami.”
“Tapi ada kan jo cowok yang kau sukai?”

Aku pasrah, sia-sia aja kalau pengen mengelak dari mereka.

“Iya. Ada”
“Siapa??”
“Jangan sebut merk-lah. Pantang itu!”
“Ga papa. Kasih taulah jo.”
“Anak kelas 3 dulu ya?”
“Iya.”
“Ohh..sudah ku duga. Aku tau siapa orangnya. Si XXX kan???”
“Iya”
“Hah?? Jadi kau suka ma dia Jo?? Trus sekarang gimana?”
“Ya gak gimana-gimana. Aku juga gak tau aku suka atau cuma simpati aja.”
“Kau pernah gak bilang ma dia kalau kau suka dia?”
“Enggak!”
“Kenapa?”
“Untuk apa dibilang?”
“Siapa tau bisa jadian?”
“Hahaha..jadian bukan segalanya, neng!”
“Ya kan sayang kali. Padahal dia cakep, pintar, baik, anak Tuhan lagi, Jo!”
“Trus?”
“Sayanglah kau lepas gitu ajah..”
“Aku malah gak pengen memiliki dia.”
“Hah?? Kok bisa?”
“Ya gak pengen aja. Beginipun sudah cukup.”
“Aihh…aihh.. Masih jaman ya cinta yang dipendam-pendam?”
“Biarin aja.”
“Sekarang masih sering komunikasi ma dia?”
“Gak..Cuma sesekali. Ah, udah ah.. dah lebih dari satu pertanyaan kalian dari tadi.”

Tapi teman-temanku memang pejuang keras. Segala cara dihalalkan supaya aku mau terus melanjutkan wawancara ‘keroyokan’ itu. Hehehe… Lain kali dech diceritain tentang Mr. XXX itu.

 

Bukan Cintaku… March 11, 2009

Filed under: Cerpen, Fiksi, Imajinasiku, Coretanku — Hasian Cinduth @ 4:44 pm

Aku bersalah karena membiarkannya menitipkan cintanya di hatiku, padahal cinta itu tak ku sentuh sama sekali. Aku memang bersalah.

“Tolong jangan paksa aku.”
“Aku akan terus memaksamu sampe kau mau.”
“Usahamu akan sia-sia”
“Aku yakin akan berhasil”
“Kau keras kepala”
“Terserah apa katamu, aku tak peduli”

Keadaan menjadi hening setelah itu.

“Please, aku gak bisa tanpamu!”
“Kau hanya tak mau berusaha”
“Aku sudah mencoba, tapi tetap gak bisa. Hanya kau yang bisa membuat aku semangat lagi.”
“Gombal”
“Aku gak gombal, dan aku gak tau apa itu gombal. Aku serius.”
“Sudahlah, apa gak ada topik lain yang bisa dibicarakan selain itu?”
“Gak ada. Aku hanya akan membicarakan tentang ini.”
“Aku bosan.”
“Plisss, aku benar-benar cinta kamu. Aku sayang kamu, kembalilah…”
“…..”

Keadaan hening kembali, kali ini dengan rasa bersalah yang menelusup ke dalam hatiku. Apa yang sudah ku lakukan padanya? Aku belum berhenti menggoreskan luka di dalam hatinya, dan aku masih menyiksa perasaannya dengan penolakan atas cintanya. Aku memang bersalah, setidaknya aku jujur tentang hal itu. Aku bersalah karna membiarkan dia masuk ke dalam hatiku. Aku bersalah karena membiarkan dia berharap lebih dariku. Aku bersalah karena membiarkannya menitipkan cintanya di hatiku, padahal cinta itu tak ku sentuh sama sekali. Aku memang bersalah.

Aku tak ingin merasa bersalah lebih banyak lagi, hingga akhirnya ku putuskan untuk berlalu dari hidupnya. Ku putuskan hubungan dengan tiba-tiba, setidaknya begitulah katanya, tanpa tanda-tanda dan tanpa persetujuan darinya. Aku meninggalkannya begitu saja hanya dengan sebuah pesan “Maafkan aku, sepertinya aku tak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Aku mau kita putus.” Tak ku hiraukan lagi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya, karna aku tak tau bagaimana cara menjelaskannya. Aku memang bersalah, karna sampai saat ini tak satupun penjelasan ku berikan padanya.

Sebenarnya dia itu baik, dia sama sekali gak pernah marah meski aku selalu berusaha membuatnya mendongkol, dia selalu sabar menghadapi semua sifat kekanak-kanakanku. Hingga akhirnya aku sadar, dia tak pantas ku sakiti lebih jauh lagi. Dia layak berbahagia, mungkin dengan oranglain.

Aku tak pernah bermaksud mempermainkan hatinya, apalagi menjadikannya pelampiasan atas kekecewaan hatiku. Menyebutnya sebagai pelampiasan mungkin terlalu kejam. Aku hanya berusaha untuk belajar mencintai dia, tapi ternyata hatiku tak bisa, dan aku tak bisa memaksa. Mungkin aku butuh waktu untuk itu.

Aku hanya tak mau menyakitimu lebih jauh lagi. Kau terlalu berharga untuk ku perlakukan seperti itu, dan aku tak mau semakin merasa bersalah. Kau pantas untuk bahagia, raihlah cinta itu, tapi bukan cintaku.

Tak mungkin menyalahkan waktu
Tak mungkin menyalahkan keadaan
Kau datang di saat ku membutuhkanmu
Dari masalah hidupku bersamanya

Semakin ku menyayangimu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

Suatu saat nanti kau ‘kan dapatkan
Seorang yang akan dampingi hidupmu
Biarkan ini menjadi kenangan
Dua hati yang tak pernah menyatu

Maafkan aku yang biarkanmu
Masuk ke dalam hidupku ini
Maafkan aku yang harus melepasmu
Walau ku tak ingin

Semakin terasa cintamu
Semakin ku harus melepasmu dari hidupku
Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
Kita tak mungkin trus bersama

I’ll let you go…

 

Sahabat dalam diam… March 6, 2009

Filed under: Curhat — Hasian Cinduth @ 3:58 am

Aku mengenal dia…ya, tentu saja
Sosoknya sempat ku akrabi untuk beberapa saat,
tapi tidak lama…

Kami pernah saling berjanji
Aku akan selalu menjadi pendampingnya
Dan dia akan selalu menjadi sahabatku,

selamanya…

Indahnya jalinan persahabatan kemudian harus terhenti
Indah itu pun segera berlalu dengan kehadiran seseorang
Seseorang yang memintaku menjauhi sahabatku sendiri
Dan ku lakukan demi egoku, tanpa memikirkan perasaan sahabatku

Tapi apa yang ku dapat?
Aku kehilangan seseorang itu
Dan yang paling menyakitkan adalah aku telah menghilangkan sahabatku sendiri dari kehidupanku

Aku bersedih…
Aku menyesal…
Dan aku menangis…

Aku ingin kembali pada sahabatku
Tapi aku tak punya cukup nyali
Aku ingin bicara dengan sahabatku
Tapi bibirku tak sanggup membuka
Membungkam…hingga akhirnya aku hanya diam disini,
di sudut hatiku sendiri…

Saat mata saling beradu, aku menjauhkan pandanganku
Tapi aku tau, hatiku tak lepas memperhatikannya
Saat langkah saling bertemu, aku memutar arahku
Tapi aku tau, hatiku ingin selalu tau kemana tujuannya
Saat itu aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh,
jauh disudut hatiku sendiri…

Kami tak saling melihat
Kami tak saling bertegur sapa
Kami tak saling bercerita
Tapi hatiku tau semua tentang dia,
meski semua itu harus ku simpan sendiri disini,
di sudut hatiku sendiri…

Ku rasakan gundahnya, tapi aku hanya diam
Ku lihat kesedihan di matanya, dan aku masih mengacuhkannya
Tapi kemudian ku dapati hatiku sedang menangis,
aku turut merasakan kepedihannya…

Saat itulah ku sadari bahwa jauh di dalam hatiku,
aku masih menganggapnya sebagai sahabatku
Dan selamanya akan tetap seperti itu
this i promise you…

Dia menjadi sahabatku tanpa tatapan
Dia menjadi sahabatku tanpa sapaan
Dia menjadi sahabatku tanpa cerita
Karna aku menyayanginya bukan dengan mata
Karna aku menyayanginya bukan dengan mulut
Karna aku menyayanginya bukan degan kata

Tapi aku menyayanginya dengan hatiku….

Dan perasaan ini akan ku biarkan mengalir apa adanya
Hingga suatu saat nanti ku dapati sebentuk persahabatan sejati di dalam hati sahabatku itu….

Sahabatku, aku masih jadi pendampingmu…
Dan selamanya akan tetap seperti itu….
i promise you…

—-

Postingan ini ku dedikasikan buat seorang sahabat dalam diamku, Julius Alexander. Hey pendamping, aku senang bisa ketawa-ketawa lagi seperti kemaren malam… :-)

Dan tau gak??? Sebenarnya sejak kita saling menjauh, ku pikir aku sudah gak pernah lagi ada dalam hidupmu…tapi ternyata aku salah. Aku sangat..sangat…dan sangat terharu waktu kau bilang, “Waktu itu aku lihat kau nangis di tangga, aku tau kau sedih…aku pengen datangi kau tapi itu semua gak ku lakukan karna hanya akan membuat masalahmu semakin runyam, dan aku juga tau kalau aku adalah salah satu sumber masalahmu dengannya..”

heyyy…apa yang kau ucapkan itu membuat aku nangis, ku pikir kau gak peduli sama aku… Dan itu semualah yang membuat aku semakin gak mau kehilangan kau lagi hanya karena keinginan orang lain…tidak karna keinginan pacarku kelak, atau pacarmu sekarang juga…

hihihihi….. :-)

frenz forever yakkkzz pendamping…. ;-)

 

Apakah aku mengidap Sinusitis? March 4, 2009

Filed under: Curhat — Hasian Cinduth @ 4:01 am

Oke, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, aku mau mencantumkan dulu beberapa pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan sinusitis.

Sinusitis adalah istilah kedokteran untuk infeksi sinus, yaitu rongga yang berisi udara yang letaknya dalam rongga kepala di sekitar hidung yang terjadi terjadi karena pilek menahun akibat dari alergi terhadap debu dan sari bunga.Sinusitis dapat juga disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.

Gejalanya gimana?

Gejala sinusitis yang paling umum adalah sakit kepala, nyeri pada daerah wajah, serta demam. Hampir 25% dari pasien sinusitis akan mengalami demam yang berhubungan dengan sinusitis yang diderita. Gejala lainnya berupa wajah pucat, perubahan warna pada ingus, hidung tersumbat, nyeri menelan, dan batuk. Beberapa pasien akan merasakan sakit kepala bertambah hebat bila kepala ditundukan ke depan. Pada sinusitis karena alergi maka penderita juga akan mengalami gejala lain yang berhubungan dengan alerginya seperti gatal pada mata, dan bersin bersin.

Hidung kita bisa meradang oleh beberapa penyebab, paling sering sebab pilek lama. Pilek lama sering sebab faktor alergi. Kita tahu alergi bisa muncul pada hidung. Kalau pagi hari sering bersin-bersin, dan bersin berhenti sendiri kalau matahari sudah muncul, kemungkinan itu pilek alergi.

Nyeri pada sinusitis juga tergantung pada letak sinus yang sakit. Nyeri di dahi merupakan gejala khas sinusitis frontalis. Nyeri pada rahang atas dan gigi merupakan gejala infeksi sinus maksilaris. Infeksi sinus etmoid menimbulkan rasa nyeri di antara kedua mata, rasa nyeri kalau pinggiran hidung disentuh, hidung tersumbat dan tidak dapat mencium. Gejala sinusitis lainnya adalah nafas berbau tidak sedap.

Nah, apa yang ku Quote dan ku Bold pada tulisannya adalah HAL-HAL YANG KU RASAKAN berkaitan dengan Sinusitis.

Sekarang ku jelaskan lebih detail tentang apa yang ku rasakan sejak 3 tahun belakangan (tepatnya sejak aku tinggal di daerah dingin, Laguboti).
1. Setiap pagi aku akan bersin-bersin, kemudian dari hidung akan keluar cairan (seperti ingus, tapi tidak berwarna) dalam jumlah yang ‘banyak’. Dan ini akan berhenti bila matahari sudah agak meninggi (sekitar jam 8 pagi).
2. Jika hujan deras turun ke bumi ini, maka secara berkala suhu badanku akan naik, yang kemudian menjadi demam, dan akan kembali normal jika hujannya sudah berhenti.
3. Jika terkena debu, maka mataku akan sangat gatal dan jika ku gosok, maka akan menjadi sangat-sangat-sangat merah dan kemudian kantong mata akan membengkak, seperti orang habis nangis. Trus, hidungku pun gatal segatal-gatalnya, dan ini benar-benar menyiksa..Dan gak lupa disertai keluarnya cairan dari hidung (tetap cairan yang gak berwarna).
4. Jika dalam ruangan ber-AC (dan aku gak make jaket), maka tangan dan kakiku akan terasa sangat dingin, hidung melerrrr, mata gatal, hidung gatal yang kadang-kadang juga membuat badanku terasa sakit.
5. Akhir-akhir ini, apalagi musim hujan kemaren,rahang atas dan gigiku sering terasa nyeri, bahkan ini disertai dengan rasa sakit pada bagian kepala.
6. Kalau abis minuman dingin, 90% dipastikan aku akan langsung pilek ditempat, hidung melerrr, tangan dan kaki dingin, kalau beruntung gak sampe demamlah.

dan masih banyak hal lainnya, tapi itu yang paling sering mengganggu.

Dari beberapa (banyak) artikel yang ku baca, aku juga gak tau apa aku bisa di kategorikan sebagai pengidap penyakit Sinusitis.. dan berdasarkan hasil diagnosa seorang dokter gadungan, maka diambil beberapa kemungkinan. :
1. Aku ini hanya terkena pilek alergi, karena keluhanku hanya muncul di saat cuaca dingin dan terkena debu.
2. Aku ini pengidap sinusitis jenis non-infeksi, karena cairan yang keluar dari hidungku bukan cairan yang bercampur nanah dan masih disebabkan alergi.
3. Kalaupun aku terkena sinusitis, maka jenis sinusitisnya adalah sinusitis maxilaris.

pretttt…hahaha…. :-)
duuhh, sebenarnya aku pengen periksa ke dokter, tapi aku malas. Karna biasanya dokternya suka lebaiii dan justru nakut-nakutin aku aja..

menurut kalian gimana?? apakah gejala yang ku alami ini bisa dikatakan sinusitis???