“Bug!!!!” Jantungku terasa mau lepas dari tempatnya saking kagetku melihat wajah seseorang di depan jendela rumah. Aku langsung menghampiri norma yang sedang tertidur lelap, ku pegang lengannya dengan sangat erat yang membuat dia terkejut dan terbangun dari tidurnya.
“Sister, terkejut kali aku…” Belum selesai dia bicara, aku menempelkan jari telunjuk di bibirku memberi isyarat agar dia tidak bersuara.
“Ssstt…ada yang ngintip di jendela”, ucapku dengan wajah ketakutan, tanganku juga terasa sangat dingin. Mendengar itu, si norma langsung terduduk, dia juga kaget.
“Siapa???”
“Abang yang disebelah.”, aku menjawab dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa.
Kami berdua terdiam beberapa saat. Aku benar-benar ga punya keberanian untuk memastikan apakah dia sudah pergi atau masih disitu. Tapi rasa penasaran tetap ada, akhirnya ku beranikan diri untuk melihat ke jendela, dia sudah ga ada disitu.
Langsung ku telpon abangku, untungnya dia belum tidur padahal sudah jam ½ 2 pagi. Ku ceritakan kejadian yang baru ku alami dan tentang ketakutan yang ada di dalam hatiku, ditambah lagi ada trauma yang membayangi sejak pembunuhan K’ Rosalina. Tamatlah riwayatku kali ini, pikirku. Aku benar-benar ketakutan saat itu. Si norma juga ketakutan, bahkan dia sampe nangis.
Sejak ngelihat tampang jeleknya di jendela itu, aku benar-benar ga berani memejamkan mataku, takut kalau dia nekat masuk ke rumah. Jadi aku berusaha nelpon orang-orang yang ku anggap bisa menenangkan aku dengan ucapan2nya, untunglah masih ada juga yang ngangkat telpon dariku. Tapi si ito hasian (bc: Ito Indra) ga bangun , padahal dia orang yang paling ku harapkan bisa ku ajak ngomong saat itu.
Jam 4 pagi aku baru bisa merasa sedikit lebih tenanglah, karena sebentar lagi langit akan terang dan aku bisa melaporkan kejadian ini sama Ito Manurung yang punya kost.
Dengan kepala pusing (soalnya kurang tidur), aku dan Norma menceritakan kejadian yang kami alami semalam dan kejadian janggal lainnya sejak kami menjadi tetangga si biadab itu, bilang ajalah namanya si KOTUL alias Kotor Ulu. Ada kemarahan di wajah Ito itu, tapi berhubung dia dan keluarganya mau gereja, tindak lanjutnya dipending dulu sampai dia pulang gereja.
Siangnya kami dimintai keterangan lebih detail, yah kami certain aja sejujurnya sampe masalah dia pernah ngajakin selingkuh… Dasar Kampret!!!! Udah jelek, hitam, keriting, PD lagi… uggghh, dah mau ku pecahkan kepalanya itu. Ito Manurung marah besar, akhirnya dia manggil istri si Kotul itu (jadi ceritanya dia dah bapak-bapak, dan istrinya boru Siregar pula) supaya istrinya tau apa yang dilakukan si kotul biadab itu.
Istrinya ga sanggup menahan air matanya, aku tau dia sedang merasakan sakit yang luar biasa di dalam hatinya. Aku dan norma juga ga tega melihat itu, tapi demi kebaikan kakak itu juga, biar dia tau kalau suaminya itu kurang ajar.
Si Kotul itu disuruh ngakuin apa yang sudah dilakukannya sama kami, tapi dia tetap berkelit, sampe akhirnya kakak itu marah dan bilang, “Jangan sampai saya marah ya. Nanti saya ambil batu besar dan saya pecahkan kepala kamu!” Akhirnya dia ngaku kalau dia memang pernah mengeluarkan penyataan yang tidak pantas dan ajakan selingkuh.
Tapi dia ga mau ngaku kalau dia yang ngintip kami. Akhirnya aku marah, ku bilang “Kalau abang ga mau ngaku, sekarang juga Abang saya laporkan ke Polisi”. Trus ditambahin lagi sama Ito Manurung, “Eh, kalau kamu ga jujur, saya antar Ito ini sekarang juga ke kantor Polisi untuk mengadukan tindakanmu ini. Kamu jangan berbelit-belit ya.” Dia masih juga berkelit, dia malah nanya sama istrinya, “Ma, emangnya saya keluar ya tadi pagi dari rumah??” Istrinya langsung naik pitam, trus katanya, “Kamu yang punya diri, kenapa kamu tanya saya? Jangan pura-pura bego deh yah (ayah), kalau memang kamu yang ngintipin mereka, jawab saja. Ayah, kalau ayah ga mau ngaku, saya tinggalkan Ayah sekarang juga. Saya sudah bilang sama Ayah, mereka berdua itu sama seperti saya, sama-sama Boru Siregar, jadi mereka ini Adek saya. Seharusnya kamu jagain mereka, bukannya nyakitin mereka seperti ini.”
Aku makin geram ngeliat si Kotul itu. Trus dia nanya sama aku, “Emangnya ito make baju warna apa semalam??” Ohhh, betul-betul cari masalah orang ini ya, trus ku jawab, “Ngapain Ito tanya saya make baju apa?? Untuk apa?? Untuk memastikan apa yang Ito intip itu saya atau teman saya??” Si Ito Manurung jadi ngamuk, trus dia disuruh ngaku atau ke kantor Polisi saat itu juga. Akhirnya dia ngaku kalau dia yang ngintip. Wahhh…pengen ku lempar sendalku ke mukanya itu.
Sebenarnya waktu dia ngintip itu aku sedang minum, soalnya mulutku panas kali gara-gara sariawan yang tak kunjung sembuh ini. Tapi untung jugalah, jadinya sifat kurang ajarnya itu jadi ketahuan. Dan untung juga tempat tidur kami itu ga kelihatan dari luar, soalnya dihalangi sama tembok.
Keputusan sudah diambil, dan Ito Manurung nyuruh mereka pergi dari rumah itu. Aku terkejut waktu kakak itu bilang, “Biar dia aja bang yang pergi dari rumah itu!”. Trus dia bilang sama si Kotul, “Kamu aja yang pergi yah, saya sudah ga mau lagi ngeliat muka kamu. Jangan pernah kamu hubungi saya atau George (anak mereka). Selama ini saya diam, tapi kamu ga mau berubah. Kamu bekerja, tapi kamu tidak pernah kasih saya uang. Semua kebutuhan rumah, saya yang penuhi. Saya sudah ga tahan lagi sama kamu. Ayah maunya apa? Kita cerai saja, biar kamu bebas sama perempuan di luar sana”.
Spontan Aku dan Norma saling lihat. Cerai?? Upzz, bukan ending seperti itu yang kami mau. Tapi emang masalah dalam rumah tangga mereka udah lama terjadi, dan mungkin ini puncaknya. Setelah itu, kakak itu melihat ke arah kami berdua, “Dek, makasih ya kalian sudah menceritakan ini semua. Maafkan kakak ya, Dek!!” Agghhh, aku jadi sedih kali melihat kakak itu yang nangis-nangis, trus kami bertiga saling berangkulan. Aku ga bisa berkata-kata lagi. Aku hanya diam.
Atas kesepakatan kakak itu sama si Kotul, diputuskan kalau si Kotul harus pergi dari rumah itu. Tapi sebelum pergi, dia diharuskan membuat sebuah surat perjanjian yang menyatakan bahwa dia tidak boleh lagi muncul di komplek itu sampai kapanpun. Dan jika dia sampai terlihat di sekitar komplek atau berusaha menyakiti Aku dan Norma, dia bersedia menerima segala konsekuensinya dan akan dilaporkan ke Polisi. Surat itu harus ditanda-tangani di atas materai dan disaksikan oleh Ketua RT.
Malamya aku ndegar Ito Manurung datang ke rumah mereka menanyakan perihal surat perjanjian itu, tapi aku sudah ga sanggup lagi untuk bangkit, aku benar-benar ngantuk.
Jadi maaf juga buat ibanQ yang nelpon semalam tapi ga ku angkat, sorry ya ban.
Oh ya, mungkin ada yang bilang, kenapa ga teriak aja waktu ngeliat dia ngintip? Yah…emang benar sich, tapi sumpah..waktu itu aku kaget kali, ku pikir aku ngeliat setan, jadinya aku langsung lari.
Benar-benar hari yang berat dan melelahkan. Sebenarnya aku lega masalahnya dah kelar, tapi agak2 trauma jugalah…. Aku apes banget….
